Archive for November, 2010|Monthly archive page

Kata sambutan dari Prof. Drs. Yongky Safanayong

Yang paling signifikan dalam perkembangan tipografi sejak akhir abad 20 sampai kini adalah bagaimana tipografi dikembangkan dengan keterkaitannya, seperti: type dan form, form dan komunikasi, type dan komunikasi.

Seiring bertumbuhnya desainer grafis dan banyak orang yang terlibat dalam desain grafis atau desain komunikasi visual baru-baru ini – tidak luput dari kemampuan desain dan penguasaan teknologi komputer serta perangkat lunaknya – kini tipografi telah berubah dan berkembang menjadi unsur penting yang terpadu dalam komunikasi verbal dan visual, bentuk huruf sudah merupakan unsur yang berkenaan erat dengan komunikasi.

Seiring dengan era komunikasi seperti sekarang, tipografi sudah merupakan bentuk visual komunikasi yang sangat kuat, karena bahasa yang tampak ini menghubungkan pikiran dan informasi melalui penglihatan manusia, tipografi menjadi unsur vital dalam efektifitas komunikasi cetak dan elektronik.

Disamping mengulas dan mengeksplorasi komponen yang fundamental dari semua komunikasi tipografi, antara lain: istilah-istilah; klasifikasi dan keluarga huruf; ukuran; warna; pengetahuan tentang bentuk dan anatomi; organisasi visual dan interaksi antar bentuk dan makna, buku ini juga mempersembahkan topik-topik yang kritis bagi praktisi desain seperti legibility (sifat mudah dibaca) dan readability (sifat dapat dibaca), keduanya yang memungkinkan pertambahan kejelasan komunikasi. Selain itu, buku ini juga mengulas aspek-aspek yang mempengaruhi bahasa tipografi lainnya, yaitu teknologi proses typesetting dari yang lama sampai yang baru, serta memilih huruf yang baik, jelas dan sesuai dengan jenis pesan, media dan sasaran. Sejarah, dalam buku ini disajikan dalam timeline berupa image-image objek yang kontekstual dengan teknologi, politik, sosial-budaya dan ekonomi.

Keseluruhan buku ini, penulis berbagi suatu kompilasi informasi yang bernas, pengetahuan tentang huruf yang meliputi jajaran subjek-subjek yang terkait dalam desain tipografi, memberi wawasan dan informasi bagi mahasiswa desain komunikasi visual, desainer, serta menimbulkan apresiasi masyarakat pada keampuhan tipografi.

Prof. Drs. Yongky Safanayong.

Advertisements

Kata sambutan dari Hanny Kardinata

Di Indonesia, hingga sekitar tahun 1960/70an, istilah tipografi belumlah begitu dikenal sebagaimana pengertiannya sekarang. Pada masa itu, tugas-tugas di kampus desain masih dikenal dengan nama lettering; mahasiswa harus membuat huruf dengan tangan (hand-drawn lettering), dimana ketrampilan menggunakan kuas dan cat poster (gouache) menjadi batu ujian utama dalam menentukan kualitas sebuah karya. Legibility dan readability menjadi sesuatu yang tidak mudah dicapai mengingat faktor optis yang bisa berubah ketika huruf-huruf masih ‘diset’ dengan pensil dengan ketika sudah diisi dengan warna (filled), apalagi kalau latar belakangnya berwarna pula. Bekerja dengan mengandalkan ketrampilan tangan masih menjadi satu-satunya pilihan teknis saat itu.

Memasuki tahun 1970an, artis-artis di kantor-kantor agensi periklanan di Indonesia sudah mulai menggunakan huruf gosok (instant lettering dry transfer) untuk menset headline iklan, yang paling populer saat itu adalah yang diproduksi oleh Letraset (Inggris), Mecanorma (Perancis) dan belakangan oleh Rugos (Indonesia). Sementara untuk naskah iklan (body copy) diset dengan mesin tik IBM. Baru pada periode berikutnya yaitu pada pertengahan 1970an mesin elektrik ini digantikan oleh mesin phototypesetting yang diproduksi oleh Compugraphic, yaitu mesin setting huruf yang menggunakan proses fotografis (output-nya berupa kertas bromide, kertas foto yang mengandung bahan kimia perak bromide).

Desain grafis termasuk tipografi kemudian mengalami perkembangannya yang paling revolusioner ketika komputer Macintosh mulai dikenal di Indonesia semenjak paruh kedua tahun 1980an. Proses pekerjaan yang sebelumnya dilakukan dengan sistem manual diambil alih sepenuhnya oleh komputer. Tangan digantikan oleh pixel, free hand oleh vector. Komputer menjanjikan kemudahan-kemudahan yang tak terbayangkan sebelumnya, dan menjelang pergantian milenium, semakin banyak saja desainer grafis yang menjadi semakin bergantung pada komputer.

Tetapi di Amerika, memasuki dekade pertama tahun 2000an, di tengah eforia penggunaan komputer, hand-drawn lettering justru populer kembali. Gejalanya sudah terlihat beberapa tahun sebelumnya ketika grunge typography menjadi begitu populer (termasuk juga di Indonesia) antara lain melalui David Carson (disebut-sebut sebagai “The Father of Grunge Design”) yang menggunakan tipografi sebagai medium untuk berekspresi. Steven Heller bahkan menyebut dasawarsa pertama tahun 2000 ini sebagai “The Decade of Dirty Design”, suatu dekade dimana generasi baru desainer grafis berpaling kembali ke penggunaan tangan (to get back to the hand): “Mastery of the computer’s options meant that by the end of the 20th century a new generation of designers were commanding much more than merely Illustrator, Quark and Photoshop programs—they had figured out how to wed technique to concept, and produce design that often had an exterior life other than the client’s message.“ Maka terbentanglah kini pilihan-pilihan teknis dalam berkarya, sepenuhnya memakai komputer (digital), atau menggunakan tangan saja (anti-digital) atau menggunakan kedua-duanya secara bersamaan.

Dan dibandingkan dengan masa di mana hand-drawn lettering masih merupakan satu-satunya pilihan, di depan mata kini tersedia ratusan ribu jenis fonts untuk dipilih dan dipakai, suatu ‘kemudahan’ yang sungguh bisa menyulitkan. Desainer masa kini pun dituntut untuk pandai-pandai menentukan pilihannya, yang ditengarai oleh Heller sebagai “a critically exciting time to be a graphic designer”.

Buku “Tipografi” buah karya Surianto Rustan ini diharapkan akan membantu desainer-desainer Indonesia masa kini untuk memilih dan menggunakan font dengan baik dan benar, serta sukses menghadirkan message yang diusungnya secara estetis. Surianto Rustan, dengan ketekunan dan kerja kerasnya, telah melahirkan sebuah buku yang komprehensif mengenai tipografi, sejak dari awal sejarahnya, mengenal anatomi huruf, mengidentifikasinya, hingga memilih dan kemudian mengeksplorasinya.

Dengan rasa syukur saya mengucapkan selamat atas terbitnya buku “Tipografi”, semoga bermanfaat bagi perkembangan desain grafis Indonesia umumnya dan tipografi khususnya.

Hanny Kardinata
Founder DGI (Desain Grafis Indonesia)
http://www.DGI-Indonesia.com

Kata sambutan dari Priyanto Sunarto

AKSARA LATIN DI INDONESIA
Cuplikan tulisan Priyanto Sunarto (Bandung, Oktober 2004) terhadap pameran kekayaan aksara Nusantara di Museum Nasional Jakarta tahun 2004.

Induk yang sama

Dalam wacana aksara lama menghadapi aksara Latin muncul kesan seakan saat ini kita dijajah aksara orang Barat. Padahal aksara Latin maupun aksara yang berkembang di Nusantara berasal dari induk yang sama, aksara Phoenicia pada sekitar 1100 SM. Phoenicia bukan penemu huruf fonetik. Huruf fonetik sudah mulai digunakan di Asia kecil sejak 2000 SM. Mereka menyederhanakan dan membakukan bentuk huruf dan menulis satu arah. Mereka mebutuhkan komunikasi huruf yang baku dan mudah dipelajari untuk keperluan komunikasi perdagangan, karena itu populer dan meluas penggunaannya di sekitar Laut Tengah.

Huruf Phoenicia yang menggunakan sistem silabel (sukukata) berkembang ke berbagai wilayah menjadi aksara Yahudi, Arab. Kemudian menyebar lebih ke timur, India, Srilangka,Thailand hingga ke Nusantara. Menyempurnakan sistem aksara Phoenicia bangsa Yunani menyumbang huruf hidup pada sistem aksara demi kemudahan baca.

Untuk memantapkan jaringan informasi di daerah kekuasaannya yang luas sistem alfabet ini yang diambil orang Romawi menjadi huruf Latin. Selama 1500 tahun aksara Latin berkembang hingga ke bentuk lengkapnya: huruf besar, huruf kecil dan tanda baca. 500 tahun terakhir Aksara Latin makin kokoh dominasinya melalui pengembangan mesin cetak dan jenis hurufnya. Hingga hari ini ada lebih dari tujuhpuluhribu jenis huruf cetak yang diciptakan. Aksara Latin kemudian jadi aksara paling banyak digunakan di dunia saat ini.

Aksara dan azas manfaat

Kenapa saat ini Aksara Latin lebih populer dari aksara daerah? Jawabannya mungkin tak hanya satu. Pada awalnya aksara merupakan sesuatu yang “sakral” hanya boleh dimengerti para penguasa dan para dukun. Masih ada mitos bahwa membaca aksara suci oleh orang biasa bisa berakibat celaka. Kalau hanya kelompok kecil saja yang boleh baca-tulis tentu aksara tersebut tak bisa dipelajari dan dikembangkan secara meluas, penggunaannya jadi makin pudar.
Berbeda dengan contoh di atas, keluasan wilayah jajahan Romawi diikat melalui penggunaan aksara Latin. Aksara justru didorong untuk dipakai secara luas. Kekuasaan berperan dalam memaksa penggunaan bahasa komunikasi dan tanda (aksara) yang digunakan. Aksara Phoenicia populer karena digunakan untuk komunikasi perdagangan, dimana dibutuhkan media yang mudah dipelajari untuk digunakan bersama. Aksara Yunani sangat banyak dipakai terutama dalam naskah sastra dan filsafat. Kebutuhan dan ketertarikanlah yang memndorong orang membaca dan juga menulis aksara tertentu. Makin banyak yang menggunakan makin banyak yang berminat belajar.

Sekarang banyak papan nama jalan atau kantor di daerah menerapkan dua aksara: aksara Latin dan aksara daerah. Maksudnya tentu sangat baik, untuk melestarikan budaya sendiri yang nyaris punah. Tetapi apakah cara demikian akan membuat orang ingin membaca aksara daerahnya? Kita akan mempelajari suatu aksara bila isi teksnya bermanfaat besar bagi diri kita, baik bernilai adiluhung, emosional, dan tentu saja sekaligus berguna untuk keperluan sehari-hari. Dengan demikian aksara tersebut lekat dengan mata dan tangan kita. Mungkin itulah kemenangan huruf Latin: dipakai secara luas untuk berbagai maksud, mudah dipelajari dan digunakan.

“Buku tipografi karya Surianto ini menyajikan bukan hanya aspek teknik, tapi juga merambah ke aspek estetik seperti observasi bentuk, identitas huruf dan berbagai kemungkinan kreatif olah huruf. Sebagai pendesain grafis Surianto memanfaatkan pemahamannya tentang perwajahan yang menarik secara visual agar mudah diikuti baik oleh mahasiswa maupun pembaca awam. Semoga buku ini memperkaya perbendaharaan literatur desain grafis di Indonesia.”

Priyanto Sunarto.
Doktor Seni Rupa dan Desain