Sikap Masyarakat Urban terhadap Tindak Kekerasan di Sekitarnya: Fenomena Broadcast melalui BlackBerry Messenger


Sikap Masyarakat Urban terhadap Tindak Kekerasan di Sekitarnya:
Fenomena Broadcast melalui BlackBerry Messenger

Ujian Tengah Semester Mata Kuliah: Seni dan Budaya Kota

Disusun oleh:
Surianto Rustan
NIM 191110039
Semester 1 (satu)

MAGISTER DESAIN UNIVERSITAS TRISAKTI 2012
__________

Pendahuluan

Di tengah hiruk-pikuk metropolitan Jakarta, banyak fenomena yang terjadi seputar kehidupan masyarakatnya, seperti yang ter-rekam dalam sebuah pesan yang disebar-luaskan (broadcast) melalui BlackBerry (bb) berikut ini:

“Ini berita yg lebih lengkapnya: tolong bantu broadcast, dapat dr teman barusan:
Kemarin sore di tmpt maen di mall emporium jakarta utara ktmu suster gila, anaknya diseret, ditabok, ditarik udh kyk binatang, anaknya nangis ga berenti.. Dan mlh dijejelin pk minuman wrnanya dah butek gitu, saat itu jg anaknya lgsg tidur, logikanya mana mungkin anak umur 5thn bs tdr ditmpt serame itu cm dlm itungan menit,.. bener2 bikin emosi, kasian banget anaknya nangis smp ketakutan.. Mohon disebarluaskan berita ini, tp biarlah orang tua yg bersangkutan yg mengecek kebenarannya. Untuk kita orang tua tetaplah menjaga putra-putri kita yg sangat berharga dari suster/pembantu yang kita pekerjakan.
Kasih sayang dari orang tua adalah No.1”

Itu tadi hanya sebuah contoh dari begitu banyak pesan bb yang sudah sangat sering beredar di kalangan masyarakat. Pesan tersebut dipilih sebagai pintu masuk pengkajian singkat ini karena luar biasa menarik, dan apabila ditilik lebih lanjut, maka akan terlihat bahwa di dalamnya sangat kental dengan elemen-elemen yang mewakili fenomena gaya hidup masyarakat urban.

Analisis

Pengkajian fenomena ini akan diawali dengan mengurai satu-persatu elemen-elemen yang ada dalam cerita di pesan bb tadi.

“Tolong bantu broadcast”, atau: “mohon disebarluaskan”, itu adalah contoh kalimat pembuka dari pesan bb yang seakan-akan “merayakan sepelenya broadcasting”, tinggal pencet tombol, maka tersebarlah pesan tersebut ke seluruh dunia. Antara penyampai pesan dan penerima pesan belum tentu memiliki hubungan emosional, karena si pengirim tidak menujukan pesan tersebut ke pribadi-pribadi tertentu yang dipilihnya dan betul-betul dikenalnya satu-persatu, melainkan ke semua orang di dalam grup di mana ia tergabung di dalamnya.

Kata “tolong” dan “mohon” sudah hilang makna kesakralannya, tidak lagi berarti “permisi / mohon keikhlasan / kesediaan meluangkan waktu untuk membaca pesan ini”, fungsi kata tersebut lebih menekankan pada “ini pesan penting, harus dibaca” > lahir semata-mata karena kepentingan. Di lihat dari sudut semiotika, ini sudah menjadi kode yang tercipta sebagai hasil dari interaksi dan komunikasi di dalam ruang publik virtual lewat media BlackBerry.

“Dapat dari teman”, “nerusin dari tetangga / grup sebelah”, mencerminkan sifat anonimous yang kental. Tidak ada yang tahu siapa sebetulnya sumber pengirim pesan yang sesungguhnya, tapi kebanyakan percaya saja, atau ikut saja saran si pengirim dengan mem-forward pesan itu ke grup lain lagi.

Masing-masing pengguna bb itu sebetulnya teratomisasi walaupun kelihatannya bersatu. Saya tergabung / bersatu dengan orang-orang lain di grup, namun saya juga anonim, walaupun pesan itu dikirim dari account saya pribadi (bukan forward-an dari grup tetangga), tapi bisa saja itu bukan pribadi saya yang kirim, jangan-jangan istri saya, anak, atau bahkan hacker. Selain pengirim pesan, kebenaran isi pesan pun tidak ada yang tahu, apakah sebetulnya hanya karangan saja, atau saat ini masalahnya sudah selesai. Subjek dan konten menjadi hilang.

Mal adalah ruang publik yang di dalamnya sesungguhnya menawarkan kebebasan semu yang memfasilitasi mimpi orang-orang di dalamnya, sehingga seakan-akan terbebas dari realitas di luar mal itu. Bermain di dalam mal seakan-akan bermain di alam bebas.

Suster / pembantu adalah orang-orang lain yang disewa berdasarkan aturan kontrak tertentu baik tertulis maupun lisan. Tidak ada ikatan emosional antara pihak penyewa dan pihak yang disewa, semua hanya berdasarkan kepentingan, meskipun pekerjaan yang ditawarkan adalah menjaga / melindungi anak / nyawa seseorang. Akhirnya si anak juga belajar mengenal adanya ‘ibu kepentingan’, bukan hanya ‘ibu alamiah’-nya.

Anak yang dititipkan dalam perawatan suster / pembantu biasanya karena orang tuanya merasa tidak sanggup merawatnya sendiri, bisa jadi karena bekerja, tidak mau repot, atau bahkan ikut trend gaya hidup lingkungannya. Dari pengamatan sekilas, saat ini banyak ditemui di mal-mal, serombongan keluarga berpenampilan mewah sedang berjalan-jalan. Umumnya mereka terdiri dari: ayah, ibu, anak-anak dan baby sitter.

Ayah dan Ibu berjalan di depan, tidak berdekatan apalagi bergandengan tangan, tetapi masing-masing sibuk dengan bb-nya. Di belakang kedua orang tua, masing-masing baby sitter menggendong / menggandeng masing-masing anak, satu anak dipegang oleh satu baby sitter. Terkadang terlihat baby sitter sedang mengejar anak yang berlarian kesana-kemari.

Merawat anak adalah pekerjaan yang sangat memeras waktu, tenaga, dan pikiran, ini bertentangan dengan pola hidup masyarakat urban yang maunya serba instan dan membutuhkan gaya hidup untuk berekspresi, memperlihatkan eksistensinya, memenuhi hasratnya, dan tersedianya waktu senggang untuk pribadinya sendiri.

“anaknya diseret, ditabok, ditarik udh kyk binatang, anaknya nangis ga berenti..
Dan mlh dijejelin pk minuman wrnanya dah butek gitu, saat itu jg anaknya lgsg tidur, logikanya mana mungkin anak umur 5thn bs tdr ditmpt serame itu cm dlm itungan menit,.. bener2 bikin emosi, kasian banget anaknya nangis smp ketakutan”. Karena hubungannya sebatas bisnis, maka tidak ada empati antara yang disewa dan produk (anak) yang dititipkan padanya, apalagi bila hubungan antara sang penyewa dan yang disewa tidak baik, maka sang produklah yang dijadikan sasaran emosi oleh yang disewa.

Tanggapan masyarakat urban terhadap aksi kekerasan yang terjadi di depan matanya juga unik, mereka hanya mengamati sejauh ‘jarak aman’ di ruang publik, atau mem-fotonya, apalagi mal sebetulnya merupakan pasar kepentingan, sehingga tidak ada ikatan emosional, yang terjadi hanya jual beli. Keramahan yang dilakukan oleh para pemilik toko hanya sesaat dan sebatas kepentingan bisnis semata, bukan keramahan yang hakiki.

“Logika” yang ditulis oleh pengirim pesan hanya sekedar ungkapan spontan untuk mengatakan “tidurnya anak itu tidak normal”. Logikanya sendiri dianggapnya logis, yaitu dengan tidak melakukan tindakan membantu secara kongkrit, tapi cukup mengekspresikan “emosi” dan “rasa kasihan” dengan mengetik pesan bb, mem-foto, dan menyebarluaskannya.

“biarlah orang tua yg bersangkutan yg mengecek kebenarannya”, ini adalah ekspresi pemakluman terhadap keputusan yang diambil oleh dirinya, dan ini dianggapnya “logis”. Bahwa kalaupun terbayang olehnya ada tindakan negatif yang selanjutnya terjadi atas anak orang lain tersebut, maka itu sudah bukan urusannya lagi, tapi sudah jadi urusan orang tua anak tersebut, ia tidak ada kepentingan di situ. Urusan si penulis pesan hanya sampai pada “laporan pandangan mata” dan ekspresi “emosi” serta “rasa kasihan” tadi, toh ia sendiri sedang sibuk menemani anaknya sendiri bermain.

Si penulis pesan / saksi mata (kalau benar demikian) hanya sampai pada berharap agar yang berkepentingan (orang tua korban) memproses kasus tersebut, setelah ia menyampaikan laporannya lewat pesan bb yang tidak ditujukan langsung pada orang tua korban, karena ia tidak tahu bagaimana cara menghubunginya. Maka menurutnya yang paling masuk akal adalah menyebarkan laporannya dan menyuruh orang lain untuk menyebarkannya secara lebih luas lagi, dan setelah pesan tersebut menyebar di kalangan pengguna bb, maka orang tua korban akan menerima pesan tersebut.

Untuk kita orang tua tetaplah menjaga putra-putri kita yg sangat berharga dari suster/ pembantu yang kita pekerjakan.Kasih sayang dari orang tua adalah No.1”. Hubungan yang berlandaskan kepentingan makin jelas ter-refleksikan di sini, bahwa “keberpihakkan ku adalah sebatas keluargaku saja” dan orang lain bukanlah urusannya. Kasih sayang dan empati yang ikhlas hanya untuk keluarganya sendiri, bukan untuk orang lain, kecuali ada kepentingan tertentu / bisnis dengan orang lain itu.

Kesimpulan

Dari pendahuluan dan analisis yang dilakukan, dapat dilihat adanya dua sisi dalam fenomena tersebut, yaitu:
•    sisi si objek: pelaku, korban, keluarga korban, dan lingkungannya
•    sisi si subjek: si penulis pesan bb itu, keluarga, dan lingkungannya

Beberapa poin kesimpulan yang dapat ditarik dari sisi si objek, antara lain:
1. Dinamika gaya hidup masyarakat urban yang telah bercerai dengan “ibu alamiah”-nya tidak lagi didasarkan pada nilai-nilai luhur daerah asal masing-masing pribadi, melainkan pada nilai-nilai kolektif yang dikembangkan oleh komunitas barunya itu (“ibu kepentingan”), yang di-nurturing dengan baik oleh para pebisnis dan pemain kapital dalam bentuk imagologi, sehingga semua terbuai dalam mimpi indah seakan-akan dininabobokan oleh sang “ibu alamiah”nya.
2. peniruan trend sangat subur terjadi, karena tidak adanya gaya hidup yang bersifat personal, yang ada: komunal. Bahwa apabila mau terlihat sebagai keluarga sejahtera, maka jangan mengurus anak sendiri, melainkan sewa baby sitter. Selain terlihat trendy, juga praktis, tinggal bayar, timbal baliknya adalah: waktu senggang yang lebih banyak untuk diri si orang tua, kesempatan untuk berekspresi yang lebih luas untuk memperlihatkan eksistensinya, dan memenuhi hasrat pribadinya.

Beberapa poin kesimpulan yang dapat ditarik dari sisi si subjek, antara lain:
1. si penulis bb telah “dilumpuhkan” oleh BlackBerry (mungkin mayoritas masyarakat kita yang “tech-savvy”-pun demikian). Daripada melakukan tindakan kongkrit yang hasilnya tidak dapat diprediksi, misalnya menegur langsung si pelaku, atau membawanya ke pos keamanan terdekat, saksi mata malah lari ke bb, sebagai “safety zone”-nya, dan berharap pesan bb itu memberikan keajaiban berupa perlindungan kepada korban, dengan kata lain: bb memberikan jalan keluar terhadap segala masalah.
2. Keberpihakannya pada keluarga sendiri melampaui keberpihakannya pada orang lain yang bukan keluarganya, bahkan apabila nyawa orang lain itu terancam. Hal ini lebih unggul daripada ajaran agama, serta nilai-nilai moral yang luhur. Dalam budaya populer, ini semacam skizofrenia, karena di satu pihak sangat mencintai keluarganya, dan di pihak lain cuci tangan terhadap nyawa orang lain (“biarlah orang tua yg bersangkutan yg mengecek kebenarannya”).
__________

No comments yet

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: