Archive for the ‘Uncategorized’ Category

2014 in review

The WordPress.com stats helper monkeys prepared a 2014 annual report for this blog.

Here’s an excerpt:

The concert hall at the Sydney Opera House holds 2,700 people. This blog was viewed about 38,000 times in 2014. If it were a concert at Sydney Opera House, it would take about 14 sold-out performances for that many people to see it.

Click here to see the complete report.

Design Cooking

Design Cooking

Event: DESIGN COOKING with Surianto Rustan
series 1: SPICY LAYOUT
Seminar & Workshop

– Diperuntukkan bagi Desainer, Mahasiswa dan Pelajar
– Mengetahui jenis-jenis laout & menggunakannya sesuai konsep
– Mencari ide & menggunakan tahapan desain yang benar
– Mengolah elemen teks, foto, gambar, warna, menjadi sebuah karya desain yang HOT & menjual

– Tanggal: Sabtu, 18 Mei 2013
– Jam: 08.30 – 14.00 (+ makan siang)
– Tempat: Central Park Tower (APL) lt. 10 (Bong Chandra Breakthrough Center), Jalan S. Parman, Jakarta Barat.

ACARA:
– Seminar oleh Surianto Rustan (Designer, Author, Speaker, Lecturer),
– Demo masak layout (bedah karya peserta) oleh Naldo Yanuar Heryanto (Graphic & Multimedia Expert, Speaker, Lecturer),
– Makan siang (included),
– Doorprize,

Masing-masing peserta akan mendapatkan:
– Free CD font
– makan siang
– sertifikat
– goodiebag
– kupon doorprize
– harga khusus buku-buku desain Surianto Rustan

TIKET:
– Umum: 240.000, special price untuk grup 3 orang: @190.000
– Mahasiswa/pelajar: 100.000, special price untuk grup 3 orang: @80.000
– Special price berlaku s/d 15 Mei 2013

INFO & PENDAFTARAN:
– Ronny 083806013131
– Johana 081932683100
– eMail: designcooking@yahoo.com
– Twitter: @suriantorustan

______________________________________

Brainstorm I

Brainstorm I

Agenda bulan April 2013:
Brainstorm I, Malang, 22 April 2013

Metode mendesain maskot

Submitted on 2013/03/18 at 10:25 am

selamat siang pa Surianto…oh iya pa..aku ada tugas dari dosen…di suru buat maskot…untuk metode perancangan maskot sendiri.langkah-langkah apa saja yg harus di lakukan..terimakasih banyak sebelumnnya pa…
____________________

Submitted on 2013/03/18 at 4:51 pm | In reply to sukri.

Halo Mas Sukri,
Sebelumnya saya minta ijin dulu untuk memindahkan percakapan kita ini ke surianto.wordpress.com, krn klinikdesain.wordpress.com mau saya hapus.

Menjawab pertanyaan tentang metode membuat maskot,
pada dasarnya mendesain apapun, apakah itu logo, iklan, maskot, dll. metodenya sama saja:
1. riset
2. strategi
3. mendesain visual

riset paling mudah pakai 6W1H:
what: untuk keperluan apa maskot ini dibuat?
why: mengapa?
who: siapa / pihak mana yg diwakili oleh maskot tsb?
whom: untuk siapa? (target audiens)
when: kapan?
where: di mana?
how: bagaimana maskot yg diinginkan?

stlh pertanyaan riset terjawab, maka dicari strateginya, misalnya target audiens adalah anak2 SD, maka mungkin menggunakan bentuk2 yang akrab dengan mereka, misalnya bulat2, atau mirip tokoh yg mereka idolakan, dll., di strategi ini ditentukan tdk cuma visual: bentuk, tinggi, ukuran, style / gaya, tp juga suara, tingkah laku, dll.

Setelah dapat strategi, maka bisa ulai mendesain visualnya: mimik wajah, bentuk tubuh, pakaian, warna, tipografi, dll.

Demikian yang saya ketahui, Mas Sukri, mudah2an bisa membantu.

Julia Perez “Titisan Suzanna”

Julia Perez “Titisan Suzanna”.

Tugas Mata Kuliah Desain dan Kebudayaan

Disusun oleh: Surianto Rustan
NIM: 191110039

Magister Desain Universitas Trisakti 2012

__________

rumah-bekas-kuburan

PENDAHULUAN
Berikut ini adalah cuplikan dari berbagai sumber di tahun 2012 tentang artis Julia Perez menjadi ‘titisan’ almarhumah Suzanna:

Media Indonesia:
Persiapan penayangan film horor Rumah Bekas Kuburan yang dibintangi artis Julia Perez siap ditayangkan ke publik, 2 Februari mendatang. Film yang memuat gambar bugil Jupe–sapaan Julia–itu siap menghangatkan kancah industri perfilman Tanah Air. “Jadi, Februari tayang di bioskop,” ujar manager Jupe, Mario saat dihubungi Media Indonesia di Jakarta, Kamis (26/1) sore. Jupe rela melakoni berbagai ritual mistis demi menghayati peran tersebut. Sederet ritual, yaitu semedi, makan bunga melati, menabur sesajen, hingga mandi di Pantai Selatan.
Clift Sangra, mantan aktor laga dan suami Ratu Film Horor Suzanna van Osch, mengaku lega karena telah menjalankan amanat yang disampaikan sang istri sebelum meninggal pada 2008. Amanat itu adalah mencarikan seorang perempuan untuk dijadikan titisan Suzanna. Clift patut merasa lega karena dia telah menemukan titisan Suzanna dalam diri aktris Julia Perez alias Jupe (31). Jupe dinyatakan resmi jadi titisan sang Ratu Film Horor pada Sabtu (11/2) malam setelah melakukan ritual terakhir dari sembilan ritual yang diwajibkan Clift.”

Kapanlagi.com:
Keseriusan Julia Perez untuk bemain di film horor semakin besar. Bahkan, Jupe rela terbang ke Magelang hanya untuk meminta restu dari Suzanna yang sudah tiada tersebut. Selain itu, Jupe meyakini bahwa dirinya akan terjun total di dunia peran, terutama film horor, karena dia percaya bahwa ada panggilan untuk melakoni peran-peran tersebut. Maka dari itu, dia berharap bahwa almarhumah Suzanna yang dijuluki Ratu Horor itu akan berkenan jika posisinya “digantikan” oleh Jupe.
Setelah berganti baju, Julia Perez mengunjungi kamar 308 di Inna Samudra Beach Hotel, Pelabuhan Ratu, Sukabumi diyakini sebagai tempat persinggahan Kanjeng Ratu Kidul.. Selesai dari kamar 308, ketika langit sudah gelap, Jupe berjalan kaki membawa sesajen tumpeng menuju tempat berendam. Didampingi oleh Clift Sangra dan pendamping supranatural, Jupe melepas sesaji di sungai muara laut yang berjarak 300 meter dari hotel. Ditutup kain batik panjang, Jupe melepas atribut dan perhiasan, kemudian berendam… Jupe sendiri mengaku takut dihujat (oleh masyarakat), namun dia yakin pada dirinya sendiri bahwa apapun yang ia mohon dengan doa adalah kepada Allah saja.”

Tribunnews.com:
Setelah diresmikan menjadi ‘titisan’ Suzanna nanti, Julia Perez (Jupe) akan memfokuskan diri bermain di film-film horor. “Sebetulnya aku menyukai film drama, komedi, dan horor. Tapi aku rasa yang orang paling suka dari aku adalah ketika aku main film horor. Jadi buat aku ini pintu rezeki. Jadi, ya, sepertinya akan lebih fokus ke film horor,” katanya.

Fenomena yang menarik ini sangat mencerminkan ciri khas budaya populer, juga tak dapat dikesampingkan kandungan aspek lainnya, seperti: pencitraan, fetisisme, ideologi, dan berbagai perangkat pos-realitas.
Dalam pengkajian ini tidak melihat ‘desain’ sebagai artefak visual secara sempit seperti pada desain grafis (poster, iklan, dan semacamnya) atau seni murni (lukisan, sketsa, dan lainnya), namun sebagai sebuah proses pencitraan, dimana terjadi kumulasi dari berbagai atribut tangible / fisik maupun intangible / non-fisik. untuk menciptakan value > Branding.

__________

PEMBAHASAN

Skenario pencitraan ini sarat dengan kode-kode pos-modern.
Akan menjadi lebih jelas apabila dikaji satu-persatu:

Ritual yang dijalankan dan diliput oleh berbagai media bertujuan untuk menciptakan buzz, yaitu rumour yang beredar di masyarakat tentang sebuah brand , dalam hal ini pihak investor film, manager Jupe, Jupe sendiri dan pihak-pihak lain yang mencari keuntungan dari sini mengharapkan di masyarakat terjadi ‘demam’ Jupe, dan pada akhirnya tertarik, dan menonton film yang dibintanginya. Ritual tersebut menjadi semacam ‘teaser’.

Proses ritual sebagai sebuah informasi yang banal ini direpresentasikan dan disebarluaskan melalui media massa (stasiun TV, tabloid, majalah, internet, dan lain-lain) yang ditujukan kepada masyarakat massa, yaitu masyarakat yang telah berpaling pada standar moralitas palsu dan sangat rentan terhadap media massa dan budaya populer.

Clift Sangra mengaku ini amanat dari Almarhumah istrinya, Suzanna, untuk mencari pengganti posisinya sebagai Ratu Film Horor. Kesembilan ritual itu diwajibkan oleh Clift. Bahkan seorang suami tega menjadikan istrinya yang sudah almarhumah menjadi sebuah produk santapan media massa, dan ia juga merancang ‘kewajiban ritual’ bagi Jupe untuk mendapat predikat ‘titisan resmi’ (yang juga dikarangnya sendiri). Ini adalah kegiatan memutus rantai dari kode mapan dan membongkar batas-batas moral / amoral > Dekonstruksi.

Benar dan tidaknya Suzanna memberikan amanat serta dari mana asal-muasal metode ritual yang digunakan oleh Clift tidak diketahui secara pasti. Semua ini adalah pos-informasi, ketidakpastian dan chaos informasi, dimana kesemuan lebih nyata daripada kenyataan, isu lebih dipercaya ketimbang informasi.

Jupe meminta restu kepada Almarhumah Suzanna, ia merasa ini panggilan hidupnya (Jupe), dan berharap Suzanna (yang sudah meninggal dunia) berkenan digantikan posisinya. Interaksi ini merupakan persilangan dialogis antara satu teks dengan teks lainnya di dalam rentang waktu sejarah. Hal ini menciptakan kode ganda (double coding): hibrid, eklektik > Intertekstualitas.

Jupe takut dihujat, namun ia tetap yakin dan berdoa kepada Allah saja. Di sini terjadi chaos terhadap realitas, dengan mencampur-adukkan keberpihakan kepada Allah yang sama porsinya dengan keberpihakan kepada ritual-ritual yang tidak jelas > noise, information disturbance, cultural schizophrenia.

Menurut Jupe, orang menyukai kalau Jupe main dalam film horor, jadi baginya ini adalah pintu rejeki. Disini jelas mengungkapkan bahwa kapital-lah yang menggerakkan seluruh skenario ini. Jupe dan pihak-pihak lain yang mendulang rejeki dari pekerjaan ini memanfaatkan momentum di tengah dunia perfilman Indonesia yang sedang marak dengan film-film bertema hantu.

__________

PENUTUP

Kesembilan ritual yang dilakukan Jupe merupakan fetisisme yang masih banyak dipraktekkan oleh masyarakat Indonesia (target audience film dan target branding Jupe) sebagai ideologi yang bersifat false conscious. (Fetisisme dilakukan terhadap objek material atau tempat yang dianggap sebagai manifestasi entitas spiritual dan dapat menghasilkan kekuatan tertentu.)

Fetisisme antropologi yang dilakukan Jupe tujuannya tidak lain adalah breast-feeding fans-fans-nya dan masyarakat agar makin fetis juga terhadap dirinya, padahal selama ini Jupe telah meneteki mereka dengan eksploitasi keindahan tubuh, suara, perilaku dan konsep-konsep seksual yang dibentuknya. Tapi kali ini usaha tersebut dibuat sedikit lebih kreatif dengan menahbiskan diri sendiri sebagai ‘Ratu Film Horor’ masa kini, melalui prosesi penahbisan yang terkesan real dan ‘resmi’.

Keseluruhan pencitraan ini secara epistemologis telah lenyap batas-batasnya, antara benar/salah, asli/palsu, informasi/disinformasi, knowledge/pseudo. Jupe, Clift, dan semua pihak yang telah bekerjasama membanting-tulang dalam skenario ini telah menjadi pemain aktif dalam politik citra yang berputar-putar di antara dunia ideologi dan duna tanda sebagai playground mereka untuk meraih tujuan, yaitu mengumpulkan kapital sebanyak-banyaknya.

_________

DAFTAR PUSTAKA

B. Wiryawan, Mendiola, Kamus Brand, Jakarta: Red & White Publishing, 2008.

Baudrillard, Jean, Levin, Charles, For a Critique of The Political Economy of The Sign, Missoury: Telos Press Ltd., 1981.

Butler, Christopher, Postmodernism: A Very Short Introduction, Oxford: Oxford University Press, 2003.

Eco, Umberto, Travels in Hyper Reality, Massachusetts: Harcourt, 1986.

Fiske, John, Understanding Popular Culture 2nd edition, Oxon: Routledge, 2010.

Interbrand, The Brand Glossary, New York: Palgrave Macmillan, 2007.

Kristeva, Julia, Desire in Language: a Semiotic Approace to Literature and Art
(New York: Columbia UniversityPress, 1980).

Powell, Jim, Deconstruction For Beginners, Connecticut: For Beginners, 2008.

http://www.kapanlagi.com/showbiz/film/indonesia/serius-main-horor-jupe-minta-restu-suzanna.html

http://www.mediaindonesia.com/read/2012/01/26/294202/65/10/-Jupe-Rela-Lakoni-Ritual-Mistis

http://www.santaisejenak.com/cerita-rakyat/ritual-topo-rendem-jupe-dengan-pakaian-nyi-roro-kidul/

http://www.tribunnews.com/2012/02/05/resmi-jadi-titisan-suzana-julia-perez-fokus-main-film-horor

http://www.wartakotalive.com/detil/berita/73205/Jupe-Menjilat-Parang-yang-Membara

Sikap Masyarakat Urban terhadap Tindak Kekerasan di Sekitarnya: Fenomena Broadcast melalui BlackBerry Messenger

Sikap Masyarakat Urban terhadap Tindak Kekerasan di Sekitarnya:
Fenomena Broadcast melalui BlackBerry Messenger

Ujian Tengah Semester Mata Kuliah: Seni dan Budaya Kota

Disusun oleh:
Surianto Rustan
NIM 191110039
Semester 1 (satu)

MAGISTER DESAIN UNIVERSITAS TRISAKTI 2012
__________

Pendahuluan

Di tengah hiruk-pikuk metropolitan Jakarta, banyak fenomena yang terjadi seputar kehidupan masyarakatnya, seperti yang ter-rekam dalam sebuah pesan yang disebar-luaskan (broadcast) melalui BlackBerry (bb) berikut ini:

“Ini berita yg lebih lengkapnya: tolong bantu broadcast, dapat dr teman barusan:
Kemarin sore di tmpt maen di mall emporium jakarta utara ktmu suster gila, anaknya diseret, ditabok, ditarik udh kyk binatang, anaknya nangis ga berenti.. Dan mlh dijejelin pk minuman wrnanya dah butek gitu, saat itu jg anaknya lgsg tidur, logikanya mana mungkin anak umur 5thn bs tdr ditmpt serame itu cm dlm itungan menit,.. bener2 bikin emosi, kasian banget anaknya nangis smp ketakutan.. Mohon disebarluaskan berita ini, tp biarlah orang tua yg bersangkutan yg mengecek kebenarannya. Untuk kita orang tua tetaplah menjaga putra-putri kita yg sangat berharga dari suster/pembantu yang kita pekerjakan.
Kasih sayang dari orang tua adalah No.1”

Itu tadi hanya sebuah contoh dari begitu banyak pesan bb yang sudah sangat sering beredar di kalangan masyarakat. Pesan tersebut dipilih sebagai pintu masuk pengkajian singkat ini karena luar biasa menarik, dan apabila ditilik lebih lanjut, maka akan terlihat bahwa di dalamnya sangat kental dengan elemen-elemen yang mewakili fenomena gaya hidup masyarakat urban.

Analisis

Pengkajian fenomena ini akan diawali dengan mengurai satu-persatu elemen-elemen yang ada dalam cerita di pesan bb tadi.

“Tolong bantu broadcast”, atau: “mohon disebarluaskan”, itu adalah contoh kalimat pembuka dari pesan bb yang seakan-akan “merayakan sepelenya broadcasting”, tinggal pencet tombol, maka tersebarlah pesan tersebut ke seluruh dunia. Antara penyampai pesan dan penerima pesan belum tentu memiliki hubungan emosional, karena si pengirim tidak menujukan pesan tersebut ke pribadi-pribadi tertentu yang dipilihnya dan betul-betul dikenalnya satu-persatu, melainkan ke semua orang di dalam grup di mana ia tergabung di dalamnya.

Kata “tolong” dan “mohon” sudah hilang makna kesakralannya, tidak lagi berarti “permisi / mohon keikhlasan / kesediaan meluangkan waktu untuk membaca pesan ini”, fungsi kata tersebut lebih menekankan pada “ini pesan penting, harus dibaca” > lahir semata-mata karena kepentingan. Di lihat dari sudut semiotika, ini sudah menjadi kode yang tercipta sebagai hasil dari interaksi dan komunikasi di dalam ruang publik virtual lewat media BlackBerry.

“Dapat dari teman”, “nerusin dari tetangga / grup sebelah”, mencerminkan sifat anonimous yang kental. Tidak ada yang tahu siapa sebetulnya sumber pengirim pesan yang sesungguhnya, tapi kebanyakan percaya saja, atau ikut saja saran si pengirim dengan mem-forward pesan itu ke grup lain lagi.

Masing-masing pengguna bb itu sebetulnya teratomisasi walaupun kelihatannya bersatu. Saya tergabung / bersatu dengan orang-orang lain di grup, namun saya juga anonim, walaupun pesan itu dikirim dari account saya pribadi (bukan forward-an dari grup tetangga), tapi bisa saja itu bukan pribadi saya yang kirim, jangan-jangan istri saya, anak, atau bahkan hacker. Selain pengirim pesan, kebenaran isi pesan pun tidak ada yang tahu, apakah sebetulnya hanya karangan saja, atau saat ini masalahnya sudah selesai. Subjek dan konten menjadi hilang.

Mal adalah ruang publik yang di dalamnya sesungguhnya menawarkan kebebasan semu yang memfasilitasi mimpi orang-orang di dalamnya, sehingga seakan-akan terbebas dari realitas di luar mal itu. Bermain di dalam mal seakan-akan bermain di alam bebas.

Suster / pembantu adalah orang-orang lain yang disewa berdasarkan aturan kontrak tertentu baik tertulis maupun lisan. Tidak ada ikatan emosional antara pihak penyewa dan pihak yang disewa, semua hanya berdasarkan kepentingan, meskipun pekerjaan yang ditawarkan adalah menjaga / melindungi anak / nyawa seseorang. Akhirnya si anak juga belajar mengenal adanya ‘ibu kepentingan’, bukan hanya ‘ibu alamiah’-nya.

Anak yang dititipkan dalam perawatan suster / pembantu biasanya karena orang tuanya merasa tidak sanggup merawatnya sendiri, bisa jadi karena bekerja, tidak mau repot, atau bahkan ikut trend gaya hidup lingkungannya. Dari pengamatan sekilas, saat ini banyak ditemui di mal-mal, serombongan keluarga berpenampilan mewah sedang berjalan-jalan. Umumnya mereka terdiri dari: ayah, ibu, anak-anak dan baby sitter.

Ayah dan Ibu berjalan di depan, tidak berdekatan apalagi bergandengan tangan, tetapi masing-masing sibuk dengan bb-nya. Di belakang kedua orang tua, masing-masing baby sitter menggendong / menggandeng masing-masing anak, satu anak dipegang oleh satu baby sitter. Terkadang terlihat baby sitter sedang mengejar anak yang berlarian kesana-kemari.

Merawat anak adalah pekerjaan yang sangat memeras waktu, tenaga, dan pikiran, ini bertentangan dengan pola hidup masyarakat urban yang maunya serba instan dan membutuhkan gaya hidup untuk berekspresi, memperlihatkan eksistensinya, memenuhi hasratnya, dan tersedianya waktu senggang untuk pribadinya sendiri.

“anaknya diseret, ditabok, ditarik udh kyk binatang, anaknya nangis ga berenti..
Dan mlh dijejelin pk minuman wrnanya dah butek gitu, saat itu jg anaknya lgsg tidur, logikanya mana mungkin anak umur 5thn bs tdr ditmpt serame itu cm dlm itungan menit,.. bener2 bikin emosi, kasian banget anaknya nangis smp ketakutan”. Karena hubungannya sebatas bisnis, maka tidak ada empati antara yang disewa dan produk (anak) yang dititipkan padanya, apalagi bila hubungan antara sang penyewa dan yang disewa tidak baik, maka sang produklah yang dijadikan sasaran emosi oleh yang disewa.

Tanggapan masyarakat urban terhadap aksi kekerasan yang terjadi di depan matanya juga unik, mereka hanya mengamati sejauh ‘jarak aman’ di ruang publik, atau mem-fotonya, apalagi mal sebetulnya merupakan pasar kepentingan, sehingga tidak ada ikatan emosional, yang terjadi hanya jual beli. Keramahan yang dilakukan oleh para pemilik toko hanya sesaat dan sebatas kepentingan bisnis semata, bukan keramahan yang hakiki.

“Logika” yang ditulis oleh pengirim pesan hanya sekedar ungkapan spontan untuk mengatakan “tidurnya anak itu tidak normal”. Logikanya sendiri dianggapnya logis, yaitu dengan tidak melakukan tindakan membantu secara kongkrit, tapi cukup mengekspresikan “emosi” dan “rasa kasihan” dengan mengetik pesan bb, mem-foto, dan menyebarluaskannya.

“biarlah orang tua yg bersangkutan yg mengecek kebenarannya”, ini adalah ekspresi pemakluman terhadap keputusan yang diambil oleh dirinya, dan ini dianggapnya “logis”. Bahwa kalaupun terbayang olehnya ada tindakan negatif yang selanjutnya terjadi atas anak orang lain tersebut, maka itu sudah bukan urusannya lagi, tapi sudah jadi urusan orang tua anak tersebut, ia tidak ada kepentingan di situ. Urusan si penulis pesan hanya sampai pada “laporan pandangan mata” dan ekspresi “emosi” serta “rasa kasihan” tadi, toh ia sendiri sedang sibuk menemani anaknya sendiri bermain.

Si penulis pesan / saksi mata (kalau benar demikian) hanya sampai pada berharap agar yang berkepentingan (orang tua korban) memproses kasus tersebut, setelah ia menyampaikan laporannya lewat pesan bb yang tidak ditujukan langsung pada orang tua korban, karena ia tidak tahu bagaimana cara menghubunginya. Maka menurutnya yang paling masuk akal adalah menyebarkan laporannya dan menyuruh orang lain untuk menyebarkannya secara lebih luas lagi, dan setelah pesan tersebut menyebar di kalangan pengguna bb, maka orang tua korban akan menerima pesan tersebut.

Untuk kita orang tua tetaplah menjaga putra-putri kita yg sangat berharga dari suster/ pembantu yang kita pekerjakan.Kasih sayang dari orang tua adalah No.1”. Hubungan yang berlandaskan kepentingan makin jelas ter-refleksikan di sini, bahwa “keberpihakkan ku adalah sebatas keluargaku saja” dan orang lain bukanlah urusannya. Kasih sayang dan empati yang ikhlas hanya untuk keluarganya sendiri, bukan untuk orang lain, kecuali ada kepentingan tertentu / bisnis dengan orang lain itu.

Kesimpulan

Dari pendahuluan dan analisis yang dilakukan, dapat dilihat adanya dua sisi dalam fenomena tersebut, yaitu:
•    sisi si objek: pelaku, korban, keluarga korban, dan lingkungannya
•    sisi si subjek: si penulis pesan bb itu, keluarga, dan lingkungannya

Beberapa poin kesimpulan yang dapat ditarik dari sisi si objek, antara lain:
1. Dinamika gaya hidup masyarakat urban yang telah bercerai dengan “ibu alamiah”-nya tidak lagi didasarkan pada nilai-nilai luhur daerah asal masing-masing pribadi, melainkan pada nilai-nilai kolektif yang dikembangkan oleh komunitas barunya itu (“ibu kepentingan”), yang di-nurturing dengan baik oleh para pebisnis dan pemain kapital dalam bentuk imagologi, sehingga semua terbuai dalam mimpi indah seakan-akan dininabobokan oleh sang “ibu alamiah”nya.
2. peniruan trend sangat subur terjadi, karena tidak adanya gaya hidup yang bersifat personal, yang ada: komunal. Bahwa apabila mau terlihat sebagai keluarga sejahtera, maka jangan mengurus anak sendiri, melainkan sewa baby sitter. Selain terlihat trendy, juga praktis, tinggal bayar, timbal baliknya adalah: waktu senggang yang lebih banyak untuk diri si orang tua, kesempatan untuk berekspresi yang lebih luas untuk memperlihatkan eksistensinya, dan memenuhi hasrat pribadinya.

Beberapa poin kesimpulan yang dapat ditarik dari sisi si subjek, antara lain:
1. si penulis bb telah “dilumpuhkan” oleh BlackBerry (mungkin mayoritas masyarakat kita yang “tech-savvy”-pun demikian). Daripada melakukan tindakan kongkrit yang hasilnya tidak dapat diprediksi, misalnya menegur langsung si pelaku, atau membawanya ke pos keamanan terdekat, saksi mata malah lari ke bb, sebagai “safety zone”-nya, dan berharap pesan bb itu memberikan keajaiban berupa perlindungan kepada korban, dengan kata lain: bb memberikan jalan keluar terhadap segala masalah.
2. Keberpihakannya pada keluarga sendiri melampaui keberpihakannya pada orang lain yang bukan keluarganya, bahkan apabila nyawa orang lain itu terancam. Hal ini lebih unggul daripada ajaran agama, serta nilai-nilai moral yang luhur. Dalam budaya populer, ini semacam skizofrenia, karena di satu pihak sangat mencintai keluarganya, dan di pihak lain cuci tangan terhadap nyawa orang lain (“biarlah orang tua yg bersangkutan yg mengecek kebenarannya”).
__________