Diwawancara soal desain grafis
Adlina Al-Aidid
Salam kenal, Mas.
Saya Adlina, mahasiswi desain grafis semester 5 di Politeknik Negeri Jakarta. [:)]
Saya ada tugas mata kuliah manajemen desain untuk wawancara desainer sukses.
kira2 mas bersedia saya wawancarai atau tidak?
sekiranya bersedia, berikut ini merupakan list pertanyaannya.
terimakasih banyak sbelumnya ya mas. [:)]
List Pertanyaan
1. Bagaimanakah perjalanan karir mas sebagai seorang desainer grafis?
2. Apakah yang membuat mas tertarik dengan desain grafis?
3. Apa saja proyek yang telah mas selesaikan/ sedang berjalan hingga saat ini?
4. Bagaimana mas bisa mendapatkan klien/projek, apakah mas promosi sendiri atau ada usaha lainnya?
5. Bagaimana proses tawar menawar mas dalam menetukan harga desain untuk klien?
6. Siapa saja yang mas libatkan dalam proses produksi?
7. Berapa lama produksinya suatu projek yang mas handle?
8. Bagaimana mas mengkalkulasikan biaya produksi?
9. Berapa kali mas preview dengan klien?
10. Apakah klien merasa puas dengan hasil kerja mas?
Mengapa bisa begitu? apa yang buat mereka puas?
11. ketika projek selesai apakah klien masih bekerja sama dengan mas pada projek berikutnya? jika iya apa alasan mereka?,
kemudian jika tetap bekerja sama apakah klien yang menghubungi mas, atau mas yang menghubungi klien lebih dahulu ?
Terimakasih.. [:)]
Surianto Rustan
January 9
Otre Adlina, ini jawabannya:
1. Bagaimanakah perjalanan karir mas sebagai seorang desainer grafis?
Sejak kecil senang menggambar, makin besar makin aktif dan bercita-cita jadi pelukis. Di SMU mulai melihat kenyataan bahwa menjadi seniman lukis sangat besar tantangannya, terutama untuk memenuhi urusan finansial. Jadilah saya mengambil jurusan desain grafis. Karena berhubungan dengan rupa, warna dan keindahan, saya betah di bidang ini sampai sekarang. Padahal setelah lulus kuliah sempat dilema apakah mau bekerja di grafis atau di musik. Saya sempat setahun kesana-kemari melamar kerja sebagai pemain gitar tunggal di lobi hotel-hotel. Dari beberapa kali audisi, tidak ada satupun yang menerima saya. Akhirnya saya introspeksi diri dan menyadari bahwa saya tidak jago gitar, maka saya putuskan kembali ke jalur grafis dan mulai bekerja di bidang ini.
Surianto Rustan
January 9
2. Apakah yang membuat mas tertarik dengan desain grafis?
ya itu, awalnya dari kecil senang menggambar, berekspresi lewat bahasa gambar. sementara orang lain lewat bernyanyi, atau lewat menulis, saya senang menggambar. senang warna, bentuk, pesan, yg ada di dlm sebuah lukisan / gambar. nah di desain grafis ternyata lebih kaya lagi: ga cuma ekspresi pribadi tapi komunikasi yg hrs sampai ke target audience. berarti jauh lebih advance daripada seni murni. lagipula desain grafis erat berkaitan dengan segala bidang ilmu lain, spt: sosial, komunikasi, politik, ekonomi, budaya, antropologi, linguistik, psikologi, hukum, dll. ini suatu bidang yg sangat kaya
Surianto Rustan
January 9
3. Apa saja proyek yang telah mas selesaikan/ sedang berjalan hingga saat ini?
proyek yg pernah saya garap cukup byk, mungkin baiknya lihat website saya saja: rustangrafis.com. yg lagi jalan, ada proyek website sebuah perusahaan bahan kimia.
Surianto Rustan
January 9
4. Bagaimana mas bisa mendapatkan klien/projek, apakah mas promosi sendiri atau ada usaha lainnya?
hingga saat ini saya tidak pakai marketing utk mendapatkan proyek, semua klien datang sendiri, entah tau dari temannya, dari website saya, dari buku2 saya, dll.
Surianto Rustan
January 9
5. Bagaimana proses tawar menawar mas dalam menetukan harga desain untuk klien?
harga yg saya tentukan biasanya tidak utk ditawar lagi. krn Mario Teguh pernah ngomong: umur 20 tahun kamu masih bisa ditawar, umur 30 tahun sehaursnya sudah susah ditawar, umur 40 tahun gaboleh lagi ditawar. hehe logisnya gini: umur 20 saya masih miskin pengalaman & ilmu, jadi bukan uang yg utama tapi portfolio, pengalaman, ilmu, konexi, dll, umur 30 thn, seharusnya sy sudah byk pengalaman, ilmu, konexi, dll., umur 40 tahun seharusnya sudah ngelotok [:)] ))) brandingnya seharusnya sudah begitu kuat shg orang datang ke kita memang utk dihargai mahal [:)]
namun demikian saya tetap realistis, ada perjanjian tak tertulis dimana si pembeli hrs masih bisa nawar. krn itu saya naekin lagi harganya sedikit utk margin tawar menawar, tapi nantinya setelah ditawar akan balik lagi ke angka yg sdh kita tentukan.
Surianto Rustan
January 9
6. Siapa saja yang mas libatkan dalam proses produksi?
utk produksi (pencetakan) saya pakai pihak ketiga, yaitu pihak percetakan.
Surianto Rustan
January 9
7. Berapa lama produksinya suatu projek yang mas handle?
begini, istilah produksi itu di dunia desain grafis biasanya bermakna: pencetakan. sedangkan proses sebelum produksi adalah: riset, strategi, desain (visual), sedangkan di lingkup proses produksi ada istilah pre-production, itu adalah tahap persiapan pencetakan, dan post production, itu adalah proses setelah pencetakan dilakukan.
nah tahap mana nih yg kamu maxud?
kalo tahap riset, & strategi biasanya saya lakukan sendiri, tapi tahap desain visual akhir2 ini saya kerjasama dengan mahasiswa magang atau teman desainer lain.
kalau pekerjaan mendesain buku2 saya, semuanya saya kerjakan sendiri, kecuali beberapa foto, memeriksa tulisan, dan review oleh para ahli.
lama produksi tergantung besar proyeknya, ada yg beberapa hari saja (pekerjaan desain cetak, template website), sebulan (biasanya website lengkap), beberapa bulan sampai setahunan (logo & identitas visual lainnya).
Surianto Rustan
January 9
kalo proyek buku sangat bervariasi, yg saya alami selama ini: buku layout penulisannya selesai dalam 3 bulan, logo 6 buloanan, tipografi setahun. itu semua diluar review oleh para ahli, finishing, production.
Surianto Rustan
January 9
8. Bagaimana mas mengkalkulasikan biaya produksi?
balik lagi neh, produksi cetak ato seluruhnya? riset, strategi, desain, cetak?
Surianto Rustan
January 9
9. Berapa kali mas preview dengan klien?
mgkn maxudnya review, bukan preview?
sangat tergantung proyeknya. kalo website ga lama, tapi kalo identitas biasanya bolak-balik. interview dengan boss besarnya, interview dengan para direkturnya, anak buah & staff2nya, lalu design review / evaluasi: bisa 3-4 kali biasanya.
Adlina Al-Aidid
Tuesday
untuk nomer 8, biaya produksi dr awal sampai akhir,pak..
waaah.. trimakasih banyak ya pak.. [:D]
*seneng dapet ilmu tambahan.
terimakasih banyak.
[:)]
Surianto Rustan
Wednesday
utk no.8: dari awal ya:
– riset: kalo pake pihak luar, ya kita bayar pihak periset tsb, kalo ga ya paling yang diperhitungkan transportasi, biaya bikin kuesionernya, gift utk menyatakan terima kasih ke yang diwawancara (kalau riset masyarakat umum), biaya pemakaian waktu & tenaga yg digunakan utk riset tsb, waktu & tenaga yg keluar utk menyimpulkan hasil riset, dll.
– strategi: biaya utk tenaga & waktu yg keluar utk bikin strategi komunikasi, visual, media, dll. kalo di branding kudu bikin moodboarding, brainstorming, riset visual lagi melihat contoh2 desain yg orang sudah buat, dll.
– mendesain visual: biaya atas tenaga & waktu yg keluar utk membuat desain visual / penerapan ke berbagai media (kalo identitas / branding), dll.
– preproduction: biaya yg keluar utk mempersiapkan file yg siap cetak, production & postproduction: biaya cetak & finishing (lipat, potong, tempel, emboss, dll) yg dibayar ke percetakan. (seandainya pekerjaan pencetakan diserahkan ke pihak percetakan)
biasanya orang mengcompile (menggabungkan) semua biayanya & merata-rata dalam bentuk: man-days, mxdnya man per day / biaya per hari. jadi misalnya setelah dihitung semuanya, maka biaya mendesain perhari rata2 rp.50rb, nah pas dpt order tinggal dikira2 itu butuh berapa hari pengerjaan, kalo 20 hari kerja, maka 20 x 50.000 = 1.000.000.
gitu Adlina, smg bermanfaat [:)]
Tentang proses produksi desain
Nur Humaira Albar
bapak..sa mau ada pertanyaan nih pak..hihi..buat tgs klompok pak..adu maav ya pak dadakan..hihihi..biasa pak ttg production,yg kertas,binding sm finishing pak..hihi..jwb sebisa bpk sajo..hohoho..bapak kan jagooo..hihihi
Nur Humaira Albar
November 7, 2011
1.Kapan kertas,binding,finishing mulai masuk ke Indonesia?
2.Bagaimana perkembangan proses produksi di indo?
3.Peran dari proses produksi?
4.Apa factor yang membuat kertas,binding, dan finishing itu relative mahal?
5.Peranan proses produksi itu sendiri apakah cukup penting utk mahasiswa?
6.Apakah Semua jenis kertas,binding,maupun finishing lengkap di Indonesia?
Surianto Rustan
November 8, 2011
Mai, ini jawaban gw:
1 & 2 bisa diliat di link ini: http://dgi-indonesia.com/garis-waktu-desain-grafis-indonesia-1/
3. peran proses produksi, ya ampiuuunnn.. masa kaga tau? kalo elo misalnye bikin flier, kalo kaga diproduksi ya tu desain masi di komputer doank atuh. jadi peran produksi itu ya untuk mengkongkritkan ide2 kita yang abstrak (di pikiran) ataupun yang masih virtual (di komputer)
4. kertas susah bikinnya & pake bahan dasar kayu yg makin langka, binding & finishing itu mahal krn dikserjakan manual, pake tenaga manusia bukan mesin, finishing yg pake mesinpun (misalnya efek2 cetak spt emboss, UV, dll.) kudu bikin plat/film lagi, belom bahan plastiknya utk UV & mesin press buat emboss.
5. ya iyalah, supaya hasil produksinya nanti sama / mendekati dengan yang didesain.
6. kaga.
demikian Mai, smg berguna.
Nur Humaira Albar
November 8, 2011
waahhh si bapak bae deh..hahahaa..kami sekelompok turut berterima kasih atas jwban bpk..hahah..berguna bgt ini pak,abs buat laporan uts..hahaha..mksh ya pak [:)]
Surianto Rustan
November 9, 2011
sip dah, makasih kembali
smg lancar tugasnya
Nur Humaira Albar
December 5, 2011
bapak,hihi aku mau nanya dong pak..buat skripsi aku..hehe..biar kuat ni alasannya..hoho..yang harus diperhatiin pas kita ngedesain itu apa ajah ya pak?biar afdol gtu klo bapak yg jwb..hihi..gapapa kok klo bpk cmn ksh point2ny ajah,jd ntr aku cari gtuu buat penjelasanny..hehe,asal ntr ada kutipan nama bapak pas aku tulis yg teori konsep ny..hehe
Surianto Rustan
December 6, 2011
intinya sih menggunakan tahapan kerja yg benar, disederhanakan menjadi 3 tahap: riset dulu, lalu cari strategi, baru kemudian mendesain visual.
Bagaimana prospek masa depan DKV ? Apakah desain harus ikut trend?
Ibad Baharudin
iyah bang
saya kan kebetulan ngambil dkv
menurut abang gimana prospeknya buat nanti soalnya orang tua selalu bertanya saya belum bisa jawab
Surianto Rustan
oh, DKV memang lagi booming, karena booming jadinya peminatnya membludak. karena membludak, lulusannya juga sangat banyak, memang pada akhirnya tidak semuanya tetap berprofesi sbg desainer, namun tetap saja tingkat persaingan saat ini sangat tinggi. jadi memang dibutuhkan kesungguhan hati, harus haus ilmu, dan yang pati: kerja keras. kalau mau jadi desainer yg berhasil
Ibad Baharudin
iyah bang saya hobi design tapi belum bisa di terima di masarakat
designya masih egois bang
Surianto Rustan
oh, sekarang sedang ambil kursus di design studio?
Ibad Baharudin
ga bang saya cuman baca baca blog ajah ?
Surianto Rustan
oh gitu
sip2
Ibad Baharudin
bang saya mau tanya lagi nih bang
kalau dalam masalah design ada musim musim nya ga ?
Surianto Rustan
maxudnya trend desain gitu?
Ibad Baharudin
iyah bang trend design ?
Surianto Rustan
pertama2 saya mau jelasin dulu nih, bhw desain itu punya sub2 area, walaupun ini ga formal, namun perlu diketahui supaya tambah paham.
Ibad Baharudin
apa ajah tuh bang ?
Surianto Rustan
yang dimaksud area ini adalah penekanan pada sebuah fungsi. misalnya ada area identitas (logo, branding, dll), ada area komunikasi (iklan, campaign, dll), ada area informasi (wayfindings, signage, dll), ada area yang ketergantungannya pada teknologi besar (webdesign, user interface design, dll), dll.
nah, mengenai trend, tentu saja desain grafis terpengaruh juga, cuma mungkin pengaruhnya besar di area2 tertentu, dan di area lain tidka begitu besar.
selingan: ingat loh, desain grafis tidak hanya sekadar penampilan visual. kalau hanya sekadar kulit itu namanya hiasan / dekorasi, tapi kalau desain itu sangat dipengaruhi oleh tujuannya, target audiencenya, kliennya, produknya, pesaingnya, pesan yg mau disampaikan, dan setumpuk fungsi2 lainnya. beda dengan hiasan yg sekadar kulit.
nah saya lanjutkan: kalau dipunggung desain grafis hrs menopang beban fungsi2 yg banyak tsb, tentu ia hrs sgt bijaksana kalau mau mengikuti trend, krn biasanya trend itu sekadar penampilan visual. lain kalau dia hanya berupa hiasan / dekorasi, maka kita bisa lihat contohnya logo2 yg marak di web 2.0 penampilannya hampir serupa semua.
jadi pertama ita kudu ngerti dulu bedanya desain grafis dengan hiasan / dekorasi.
Ibad Baharudin
wah saya baru nyadar itu bang
terus cara menampilkan pesan di design terkadang itu sulit bang ada tips atau trik buat bisa menampilkan pesan dalam design ?
Surianto Rustan
jadi setelah riset & mendapat data2nya, lalu buat kesimpulannya dalam sebuah creative brief. nah kita baru mendesain berdasarkan creative brief, tapi itupun belum menggambar apalagi komputer, sebaiknya brainstorming kata2 kunci dulu, lalu sketsa, nah baru membuat alternatif desain yg banyak, dan rapikan di komputer, baru sodorkan ke klien.
kalau dari sejak awal sudah pakai komputer ya bisa runyam, nanti jadinya hanya sekadar visual permukaan saja > hiasan / dekorasi.
Ibad Baharudin
wah iyah bang itu bener . . wah jadi banyak ilmu nih
Surianto Rustan
desain itu: PEMECAHAN MASALAH, nah biasanya orang salah kaprah langsung cari pemecahannya, padahal masalahnya apa dia lom tau. ibarat saya kasih nasihat ke anda, tapi anda lom cerita masalahnya apa = berarti saya so tau bener ya [:)]
Ibad Baharudin
iyah bang saya percaya abang karna lebih banyak jam terbangnya di banding saya he he he
Surianto Rustan
ah, saya kebetulan saja lahir duluan [:)]
pada dasarnya kita kan sama2 pembelajar
Ibad Baharudin
iyah masih banyak ilmu yang belum saya pelajari nih
oh yah bang saya mau tanya lagi nih soal pemilahn warna sama font itu ngaruh sama pesan design ?
Surianto Rustan
iya, perumpamaannya kalau kita mau menggambar atau menulis di sebuah kertas kosong, elemen apapun, baik titik, garis, gambar, huruf, dll semua hrs diperhitungkan matang2 krn nantinya sangat mempengaruhi pesan yg ingin disampaikan.
Ibad Baharudin
sebelum nya makasih bang udah ngasih tau
mungkin saya bakal banyak tanya
lagi maaf nih kalau ngerepotin
Surianto Rustan
sam2
silahkan, kalau saya sempat pasti saya jawab
btw saya minta ijin upload obrolan kita ini ke blog saya surianto.wordpress.com, spy yk teman2 lain yg belajar juga
Ibad Baharudin
iyah bang silahkan dengan seneng hati
boleh sebelum nya terimakasih [:)] he he h
Apa bedanya pekerjaan desain kontes logo VS proyek dari klien betulan?
Abi Chondro
masih sibuk ya, pak? [:)]
Surianto Rustan
September 30, 2011
sok sibuk tepatnya, sy belum komen ya?
Abi Chondro
September 30, 2011
hehe.. belum.. [:)]
Surianto Rustan
September 30, 2011
bntr ya
wah karyanya sudah banyak sekali, ini mah saya aja kalah ni
Abi Chondro
September 30, 2011
sy korban kontes soalnya, pak
msh susah klo nyari real client [:(]
Surianto Rustan
September 30, 2011
gpp, yah semuanya pasti ada kelebihannya ada kekurangannya. dg real klien emang sih cape bgt tp kita sgt didewasakan secara pribadi
Abi Chondro
September 30, 2011
mohon wejangannya, pak [:)]
Surianto Rustan
September 30, 2011
wejangan apa nih?
Abi Chondro
September 30, 2011
buat karya dan karir sy.. [:D]
klo dibandingin karya orang2 yg punya jalur akademis pasti punya sy msh jauh banget ya, pak?
gmn caranya biar bisa ngejar?
Surianto Rustan
September 30, 2011
hmm.. menurut pengalaman saya sih guru yg paling baik itu adalah pengalaman. coba perbanyak pengalaman dengan real client (bisa tanpa perlu meninggalkan pekerjaan yg ini – kompetisi), jadinya diri kita lebih kaya nantinya, bukan soal uang, tapi perkembangan kepribadian. sekolah ga terlalu menentukan koq, banyak juga yg sekolah formal tapi kalau memang malas atau ga ada keinginan belajar, ya sama saja. keberhasilan kita ditentukan oleh seberapa kuat keinginan kita itu utk berhasil
Surianto Rustan
September 30, 2011
sekolah, latar belakang keluarga, teman, dll ga lagi mempengaruhi. cuma diri kita sendiri.
dinding penghalang kemajuan kita ya diri kita sendiri juga
Abi Chondro
September 30, 2011
klo dinilai, kira2 karya sy dpt nilai apa, pak?
apa yg perlu ditingkatkan?
*kadang pengen juga dpt studi kasus layaknya mahasiswa, trus dinilai sm dosennya [:D]
Surianto Rustan
September 30, 2011
masalahnya desain grafis ga cuma sekadar hiasan / visual, yg dinilai dari penampilannya saja, tapi desain grafis itu satu paket dengan segala konsep di belakang karya tersebut. ini juga mungkin bedanya real klien dengan yg tidak, kalo ada real klien, kita berhadapan dengan real problem, kudu tau target audience-nya siapa, tau persis siapa perusahaannya, dia punya anak perusahaan ga, apa produknya, siapa pesaingnya, dll. dari situ semua baru menyusun strategi komunikasi (belum visual), terakhir baru visualnya. jadi penilaiannya ga cuma: bagus, jelek, ato secara visual saja, dan membuatnya / pendekatan visualnya tidak cuma disesuaikan dengan sektor industrinya / bidang pekerjaannya saja, tapi bisa juga dari spirit / jiwa si perusahaan, ato kecenderungan si target audience, atau bahkan ke hal2 yang spontan sifatnya seperti bentuk bangunannya yg unik, atau karyawannya yg semua orang muda, dll. itu yg setahu saya
Abi Chondro
September 30, 2011
sy catat bener2, pak [:)]
Surianto Rustan
September 30, 2011
desain grafis itu pemecahan masalah, memang hasil akhirnya berbentuk visual, tapi sebetulnya itu hrs bisa memecahkan masalah si klien, apakah itu meningkatkan penjualan (misal iklan produk, packaging, sign di rak toko), meningkatkan awareness thd produk tsb (iklan branding), mengajak target audience datang ke tempat tsb (display toko / pameran, iklan event), mengidentifikasi (logo perusahaan, produk & identitas visual lainnya), dll. kalau desain itu tidak bisa memecahkan masalah si klien itu desain yg tidak efektif – dianggap gagal.
Surianto Rustan
September 30, 2011
logo nantinya digunakan oleh si klien utk memperkenalkan diri, dipakai di segala produknya, di billboard, di koran, di tv, dll. akan digunakan utk identifikasi & jualan & mewakili brand / citrasi si klien, mungkin hal itu akan berlangsung selama 10 tahun sebelum logo itu diganti lagi. klien akan keluar uang sangat banyak utk itu semua. sayang kalau logonya hanya sekedar visual & dibuat lewat pendekatan yg hanya dari 1 sudut saja. not fair.
Abi Chondro
September 30, 2011
kliatannya perlu baca ulang buku ‘mendesain logo’nya pak rustan nih..
sy baca lagi
Surianto Rustan
September 30, 2011
hehe yah saya sendiri masih belajar koq Mas, bukan cuma spy tambah pinter tapi spy tambah bijak [:)]
btw mohon maaf sekiranya ada kata2 yg kurang berkenan, namanya juga manusia jd suka salah bicara, harap maklum [:)]
Abi Chondro
September 30, 2011
kata2 pak rustan tu halus banget+wise kok, pak
sy dpt ilmu banyak
Abi Chondro
September 30, 2011
kira2 ada contoh brief dr real client+real case yg bisa sy lihat gak ya, pak? mungkin juga hasil desain dr brief itu
biar sy bisa belajar dr contoh riil..
Surianto Rustan
September 30, 2011
di buku logo saya da Mas Abi, halaman 37-38, itu klien saya beneran
Abi Chondro
September 30, 2011
contohn brief yg di halaman itu brarti apa memang gk ada brief tertulis dr klien..
jd pak rustan yg riset & wawancara sendiri gitu?
lalu,rumus semiotika untuk menentukan visualisasi dr tiap keyword yg didapet dr brief tu gmn biar bisa pas?
*maaf ya, pak klo banyak nanya & pertanyaannya belibet
maklum,orang awam…
Surianto Rustan
September 30, 2011
sori barusan aku ke bawah bentar.
desainer sebaiknya selalu menganggap dirinya adalah pemberi solusi, klien itu tidak tau apa2 tentang desain krn itu mereka datang pada kita, mereka butuh solusi. utk mencapai solusi tsb kita yang guide mereka tahap2nya, krn kita yg tau seluk beluk desain.
setelah mengetahui klien itu siapa & apa problemnya, saya beri mereka kuesioner yg hrs mereka isi, selain itu juga saya interview. nah yg di buku logo tsb adalah hasil kuisioner & interview.
begitu sampai tahap brainstorming desain mah sudah lebih banyak feeling & membangkitkan perbendaharaan hubungan verbal – visual. sedangkan rumus2 semiotika sebaiknya sudah diluar kepala, krn itu kit hrs byk2 belajar, baca, melihat, menonton, dll, spy byk perbendaharaan datanya.
Abi Chondro
September 30, 2011
buku yg recomended untuk belajar semiotika apa ya pak?
Surianto Rustan
September 30, 2011
saya belum menemukan buku semiotika berbahasa indonesia yg bagus di sini. tp resource yg bagus dari luar & berbahasa inggris ada:
http://www.aber.ac.uk/media/Documents/S4B/semiotic.html
Abi Chondro
September 30, 2011
maturnuwun… [:)]
Surianto Rustan
September 30, 2011
sama2 Mas Abi, suxeselalu!
Abi Chondro
September 30, 2011
suxeselalu [:D]
Apakah kalau desain cover simetris, isi dalamnya juga harus simetris?
Desainer Dee
Bang Rustan, sy sudah membaca buku anda yg “Layout”..
yg ingin sy tanyakan,
tentang desain yg menggunakan elemen simetris,
untuk covernya sudah tersusun scr simetris, namun apakah halaman selanjutnya(bila itu dua muka) harus simetris juga???
atau ada ketentuan yg laen???
terimakasih bang..atas jawaban yg menginspirasi…
Surianto Rustan
December 22, 2011
Halo Mas Desainer Dee, setahu saya sih tidak ada aturannya dimana cover simetris lalu dalamnya harus simetris juga. Yang penting secara keseluruhannya tetap terlihat kesatuannya, dan unsusr penyatu itu tidak hanya balance, namun setiap elemen layout bisa jadi unsur penyatu, misalnya jenis huruf, warna, dan elemen2 lainnya. demikian setahu saya, salam suxes!
Desainer Dee
December 23, 2011
baik..baik.. bang… semoga semakin meng-inspirasi!!! makasih bang..
Bagaimana cara membuat desain yang catchy?
Aditya Fauzi
makasih bang udah di acc…
moga saya bisa belajar tentang design dari abang, dan karya karya abang…
Surianto Rustan
sam2.. silahkan kalau mau tanya2, saya akan jawab sebisa saya
Aditya Fauzi
bang cara bikin design yang bisa catchy dan berkesan ke orang gimana ya?
soalnya saya sering buat design, dan sering juga di tolak design nya…
Surianto Rustan
tergantung. mao bikin desain apa sekadar dekorasi / hiasan? kalo desain itu pemecahan masalah. kalo hiasan itu sekadar tampak bagus secara penampilan visual.
kalo pemecahan masalah berarti ada proses: 1. liat dulu apa masalahnya, 2. cari pemecahannya.
lihat permasalahannya antara lain: siapa target audience-nya? siapa kliennya? siapa pesaingnya? apa produknya? apa yg klien ingin sampaikan ke audience? dll
setelah permasalahannya, baru cari pemecahannya: bikin kesimpulan permasalahan dlm bentuk creative brief, brainstorming kata2 kunci, baru sketching, terakhir baru rapihin di komputer.
nah, kalo belom apa2 sdh mulai di komputer, biasanya sih alamat ditolak.
Aditya Fauzi
aaa….
bener banget bang, saya biasanya langsung buat aja di komputer…
karena belum tau, seharusnya dalam design ada survey dulu “pasar”-nya….
biasanya kalau dalam design untuk suatu instansi, yang saya harus cek itu instansi- nya secara umum, atau nurut dengan apa yang client inginkan?
Surianto Rustan
segala pengetahuan tentang ‘masalah’nya itu hrs didapat dari data2 yg valid, interview ke si kliennya tentu tetap hrs dilakukan tapi itu dipakai sebagai referensi saja, bukan yg utama, informasi lainnya didapat dari interview target audience, staf & karyawan perusahaan itu, polling ke masyarakat umum, dll. jadi nantinya didapat data2 yg jujur, bukan pemikiran klien yg biasanya dilebih2kan (terutama soal kehebatan perusahaan / produknya)
Aditya Fauzi
oh iya bener bener bang, biasanya gitu perusahaan memberikan “bumbu” yang berlebihan untuk pencitraan perusahaan nya…
untuk sekarang si saya bingung mau nanya apa lagi, tapi nanti boleh saya bertanya, ato apalagi gitu bang..
tentang design, dan hal yang lain..
boleh saya hubungi via pesan fb lagi?
Surianto Rustan
silahkan Mas, lewat fb message memang paling enak, atau boleh juga ke email saya: rustangrafis@gmail.com
btw apa boleh obrolan kita saya upload ke blog? supaya teman2 yg lain bisa belajar juga
Aditya Fauzi
boleh boleh bang…
dengan senang hati, oh iya bang..
bisa minta alamat blog nya juga?
Surianto Rustan
surianto.wordpress.com, silahkan lihat2, di situ sudah banyak obrolan yg saya upload, mudah2an berguna
Aditya Fauzi
okay… makasih bang obrolan nya…
obrolan nya berguna nih..
Surianto Rustan
sam2
smg sxs sll
Layout, Selera, Style
Selamat sore Pak Rustan berikut pertanyaan mengenai Layout :
1. Apa itu layout menurut bapak ?
Layout di dalam desain grafis itu: tataletak elemen-elemen desain terhadap suatu bidang dalam media tertentu untuk mendukung konsep / pesan yang dibawanya.
2. Seberapa pentingnya melayout dalam desain menurut bapak ?
Sangat penting, bahkan pada level tertentu bisa berperan sebagai identitas.
3. Sebagai desainer senior tentu bapak sudah menerima banyak klien dari berbagai golongan di Indonesia,
- Bagaimana selera masyarakat Indonesia secara umum ?
- lalu bagaimanakah tuntutan klien yang lebih pekat dengan faktor selera mereka dibandingkan unsur desain yang baik dan benar ?
Ah, di atas saya masih byk yg lebih senior, dan klien saya tidak sebanyak itu koq.
- Pertama-tama saya ingin meluruskan soal selera. Desain itu bukan sekedar selera, desain itu ilmiah, ada prinsip-prinsip yang harus dipenuhi, ada metode / tahapan kerja, ada riset, tujuan, ada target audience, dll (silahkan baca tulisan saya di: dgi-indonesia.com/7-mitos-fakta-desain-grafis, sebagai bagian dari 3 tulisan singkat: dgi-indonesia.com/bukamata/ artikel tsb bisa didownload PDFnya & silahkan disebarluaskan lagi seluas2nya agar makin banyak orang mengerti apa itu desain grafis). Saya lanjutkan, jumlah desainer grafis di sini kan sangat sedikit dibandingkan jumlah masyarakat yang awam desain, pun demikian tidak semua desainer menguasai betul ilmunya dan tidak semua desainer punya sense desain yang baik, selain itu banyak pula yang menyatakan dirinya desainer tapi sebetulnya bukan, nah hasilnya makin sedikitlah desainer yang betul-betul paham desain.
Selain itu, masyarakat Indonesia ini sebagian besar miskin dan tidak berpendidikan, persoalan primer seperti sandang, pangan, papan, masih banyak yang belum terpenuhi oleh sebagian besar dari kita, desain menjadi kebutuhan kesekian. Jadi yang penting perut dulu, desain? Apa itu?
- Mengenai tuntutan klien: klien (masyarakat) masih berpendapat desain itu soal selera saja, hanya dekorasi / penghias, jadi mitos itu sudah sangat menyebar luas oleh karena itu perlu diluruskan dengan pendidikan (salah satu caranya adalah dengan menyebarluaskan PDF di BUKAMATA tadi). Masyarakat sama sekali buta tentang apa itu desain dan siapa itu desainer grafis, yang mereka tahu Cuma: desain itu murah! Jadi ini adalah PR kita bersama sebagai desainer, jangan cuma bisanya cari uang untuk kepentingan pribadi saja, tapi harus berpikir jauh ke depan: bagaimana nasib kita kelak. Tiap desainer harus paham bahwa kita punya tanggung jawab moral mendidik masyarakat soal ini, klien adalah bagian dari masyarakat yang terdekat dengan desainer. Menggerutu itu percuma, lebih baik kita belajar berkomunikasi yang baik, agar bisa menundukkan ketidak pedulian mereka terhadap desain grafis.
4. Apa yang menjadi alasan bapak sebagai desainer memilih inspirasi desain dari luar negeri khususnya Eropa ?
Sebetulnya saya pribadi menyerap gaya desain dari mana saja, tidak khusus Eropa. Ini masalah personal taste. Secara pribadi saya senang segala sesuatu yang simple tapi sarat makna, to-the-point, tanpa banyak hiasan2 yang tidak perlu. Desain2 Eropa kebanyakan begitu, berbeda dengan desain Amerika yang berkesan bombastis dan popular, atau desain Jepang yang terlalu sarat simbol lokalnya.
5. Seperti yang sudah kita ketahui, desain luar negeri khususnya Eropa simple namun indah, menurut bapak apakah desain seperti ini sudah memenuhi kriteria standar layout yang dianjurkan ? Mengapa ?
Harap membedakan antara ‘style’ dan ‘design’.
‘Design’ itu problem-solution, mencari pemecahan dari suatu masalah. Layout dalam area editorial, demikian pula area2 identity, advertising, environmental design, dll. semua itu masuk dalam disiplin desain grafis – memecahkan masalah visual (kebanyakan di bidang datar / 2D).
‘Style’ itu cuma salah satu cara / metode pemecahan masalah. Contohnya: karena target audience saya western minded (berkiblat ke Barat), maka saya pakai typeface dengan ‘style’ negara-negara Barat.
Apapun stylenya (apakah Eropa, Amerika, Jepang, dll), desain (termasuk layout) yang baik adalah yang bisa menyampaikan pesan secara efektif ke target audience.
6. Bagaimana pendapat bapak tentang perkembangan desain luar negeri dan dalam negeri pada perkembangan zaman sekarang ini ?
Disiplin desain grafis itu lahirnya di Eropa. Metode pendidikan desain grafis di Indonesia itu setahu saya dulunya diadopsi dari Eropa (Bauhaus). Umur desain grafis di Indonesia belum lama, kita lebih banyak mengadopsi gaya dari luar. Berbeda dengan seni murni yang sudah meraja di negeri sendiri, karena umurnya juga jauh lebih tua.
Karena lahir di Eropa, maka apresiasi masyarakat di sana juga jauh lebih dewasa terhadap desain grafis, selain mereka adalah negara maju di mana kebutuhan primer sudah terpenuhi, karena itu sudah bisa memberi perhatian kepada kebutuhan lain seperti estetika dan desain. Kemajuan desain grafis dan apresiasi terhadapnya juga cukup tinggi di Amerika dan negara2 maju lainnya, tapi di Indonesia kita lebih banyak mengadopsi gaya luar dan ya itu tadi: di jawaban no. 3.
7. Bagaimana pengaruh desain luar negeri terhadap desain layout dalam negeri yang sebagian besar terbilang penuh dan belum sesuai dengan prinsip-prinsip desain ?
Jawabannya sebagian adalah kumulasi dari jawaban2 sebelumnya:
- karena mitos ‘desain = dekorasi’, ‘desain = style’, ‘desain = selera’ masih menguasai masyarakat kita
- karena perut dulu, desain belakangan
- prinsip2 desain hanyalah tuntunan, yang lebih penting adalah paham bahwa: apakah desain tersebut bisa efektif menyampaikan pesan kepada target audience.
- camkan bahwa: tiap problem desain punya pemecahannya sendiri-sendiri. Problem A pemecahannya A, problem B pemecahannya B. Kalau berpikir ‘desain = style’ ini bahaya. Tidak semua layout dengan ‘style’ Amerika cocok untuk semua iklan rokok, atau International Typographic Style (Swiss Style) tidak selalu cocok untuk semua layout poster. Semua tergantung dari problemnya, risetnya, target audience-nya, tujuannya, dll.
Warna Pantone itu apa?
Today
Report · 5:51pm
sore Pa
Report · 5:54pm
halo
Report · 5:55pm
Pa, mau nanya donk..boleh?
Report · 5:55pm
silahkan
:)
Report · 5:57pm
Pa, klo sebagai bhn acuan untuk Warna, warna Pantone yg digunakan itu apa sih Pa?…kan di software grafis itu bnyk sekali Pantone versi ini..versi itu..mohon masukannya pa
:D
Report · 5:59pm
Pantone itu sistem warna yg dikeluarkan oleh pantone: www.pantone.com
warna ada 2 macam: warna spot dan warna process, spot itu warna yang sudah begitu jadinya, bukan campuran dari cyan, magenta, yellow, black. sedangkan warna process itu kan cmyk. nah keunggulan warna spot adalah: dia lebih stabil, kalo warna process ga stabil, kadang cyannya lah kelebihan, kadang yellownya, dll. dan warna spot biasanya juga lebih ‘keluar’
silahkan lihat: http://en.wikipedia.org/wiki/Pantone. selain pantone, sebetulnya banyak yg lannya: TC, Toyo, DIC, ANPA, dll
Report · 6:06pm
oo gitu, biasanya yg digunakan para disainer itu Pantone saja pa?…( maaf br belajar ttg warna pa
)
dan juga, knp di Photoshop itu ada Pantone Solid Coate, Pantone Solid Matte, Pantone Pastel Coated?..apa ada patokan yg baku untuk warna Pantone, misalnya Pantone “Solod Coated”?
Report · 6:12pm
sistem pantone umum di sini, di luar negeri lain lagi. solid coated itu mengkilap, solid matte itu tidak mengkilap, pastel coated itu warna2 pastel dan mengkilap. tidak ada patokan, hanya tergantung skenario yang diinginkan oleh sang desainer. misalnya dia butuh untuk kasih kesan outstanding, modern & high tech, maka mungkin dia pilih yg coated, kalo butuh kesan feminin, mungkin dia pilih yg pastel.
btw percakapan ini boleh saya copy buat pengetahuan teman2 lainnya?
Report · 6:15pm
dengan senang hati pa..ini juga sebagai bhn referensi saya ttg warna, selain Image, ternyata seorang disainer itu juga hrs care sama yg namanya Warna, Tipografi, Cara penyajian..thx bgt Pa atas masukannya
Report · 6:18pm
iya, sama2, memang, elemen apapun yg desainer letakkan dalam sebuah bidang, semua hrs diperhitungkan baik2, soalnya desain grafis tidak sekedar ekspresi diri. slmt berkarya & suxeselalu!!
Report · 6:18pm
terima kasih Pa u/advicenya, dan semoga suxes u/buku2 selanjutnya hehe^^
Wawancara seputar Desain Grafis dan Permasalahannya
1. Apa itu desain GRAFIS?
Bila pertanyaan ini diajukan pada tahun 1900an awal, jawabannya akan jauh lebih sederhana dibandingkan tahun 2011 (sekarang). Menjawab pertanyaan itu pada saat ini harus dilihat dari berbagai dimensi dan sifatnya conditional (tergantung dari siapa, kapan, di mana, dll):
1. Umum, 2. Personal, 3. Orang di level tertentu, di tempat tertentu, di waktu tertentu.
Umum: ini saya ambil dari tulisan saya di www.dgi-indonesia.com/bukamata, di situ ada 3 artikel, silahkan download PDF-nya dan menyebarluaskannya kepada siapapun, agar makin banyak orang mengenal apa itu desain grafis.
Wujud-wujud desain grafis dapat dengan mudah ditemui di mana-mana. Brosur, surat kabar, surat-surat tagihan, kartu kredit, tagihan listrik, uang, halaman Facebook, twitter, di BB, di iPad, iklan majalah, billboard, rambu lalu lintas, logo, pada papan nama restoran, pada bungkus permen, pada kartu nama, dan lain-lain, semua itu adalah wujud desain grafis yang sering dijumpai. Kalau diperhatikan, rata-rata diterapkan dalam bidang datar (dua dimensi).
Semua benda itu fungsinya untuk berkomunikasi,
menyampaikan identitas dan pesan dari suatu pihak ke pihak lainnya.
Contohnya sebuah billboard berisi Iklan sepeda motor, bertujuan untuk:
menyampaikan identitas dan pesan ajakan dari si produsen kepada masyarakat: “ayo beli motor ini, gesit, irit”.
Supaya dapat ditangkap lebih cepat dan tepat oleh target audience, maka pesan-pesan yang berupa teks, gambar, foto, maupun elemen lainnya itu diberi identitas, ditata letaknya, diberi warna dan atribut lain yang menarik perhatian.
Itulah desain grafis.
Personal: ini istilah desain secara pribadi dari orang-orang yang telah berkecimpung dalam dunia desain. Beberapa contoh:
“Desain menciptakan kebudayaan, kebudayaan menciptakan nilai, nilai menentukan masa depan. Oleh karena itu desain bertanggung jawab atas dunia yang akan ditempati anak cucu kita” – Robert L. Peters. “Design is directed toward human beings. To design is to solve human problems by identifying them and executing the best solution.” – Ivan Chermayeff.
Dan banyak sekali desainer yang mendefinisikan desain berdasarkan opini dan pengalaman pribadi mereka.
Orang di level tertentu, di tempat tertentu, di waktu tertentu: jawaban tentang ‘apa itu desain grafis’ untuk seorang awam (lihat jawaban Umum di atas), seorang mahasiswa, seorang desainer profesional, seorang di Jakarta, seorang di Papua, seorang di tahun 1970, seorang di tahun 2050, semua memerlukan jawaban yang berbeda.
2. Menurut bapak / ibu desain GRAFIS yang baik itu seperti apa? Mengapa?
Desain grafis yang baik itu: memenuhi persyaratan sbb:
- persyaratan marketing & ekonomis: menjawab kebutuhan klien dan masyarakat
- persyaratan desain grafis itu sendiri: ada riset, kedalaman konsep, menggunakan cara kerja yang benar, ada eksplorasi, estetis & harmony, kreatif, unity
- persyaratan sustainability: tidak membohongi orang, tidak merusak masyarakat serta lingkungan, ada pendidikan bagi klien & masyarakat.
Mengapa? Karena desain grafis itu tidak sekedar jualan lewat visual, harus dipahami bahwa desain grafis adalah media komunikasi yang sangat powerful untuk mempengaruhi massa (lihat branding Barrack Obama), otomatis desainernya -sebagai orang yang sangat powerful – punya tanggung jawab besar terhadap masyarakat dan lingkungan alamnya. Ingat quotation dari film Spiderman? “With great power, comes great responsibility”.
3. Bapak / ibu menilai desain GRAFIS dari segiapa? Dan kenapa?
Ya itu tadi di atas.
4. Menurut bapak / ibu desain GRAFIS yang buruk seperti apa? Mengapa?
Yang tidak memenuhi persyaratan pada jawaban nomor 1 di atas
5. Apakah desain GRAFIS yang disukai masyarakat merupakan desain yang baik? Mengapa?
Belum tentu. Mungkin ia memenuhi persyaratan marketing & ekonomis, tapi bagaimana dengan persyaratan desain grafis itu sendiri, dan persyaratan sustainability?
Pilih mana:
- ikut maunya masyarakat, atau:
- masyarakat yang ikut kita
Saya berpikir, penjajahan di negeri ini sebetulnya terus berlangsung sampai sekarang, oleh siapa? Oleh bangsa sendiri, oleh para pemilik & pengelola media massa: stasiun TV, perusahaan film, dll. karena tujuannya hanya uang saja sehingga pilih ikut maunya masyarakat, contohnya banyaknya film bertema pocong. Coba kalau orang2 yang punya power tsb (para pemilik media) mau kompak memenuhi syarat sustainability, saya yakin secara berangsur-angsur penyakit2 di masyarakat akan sembuh.
Tidak jauh berbeda dengan para desainer grafis yang turut andil dalam penjajahan tsb, meng-iya-kan saja maunya klien untuk berbohong, lewat iklan yang suka meniru, desain yang murahan, menjerumuskan dan tidak mendidik, dll.
6. Apakah mungkin hasil desain GRAFIS orang awam bisa lebih baik dibanding profesional? Jika iya, apakah itu berarti tingkat pendidikan tidak mempengaruhi hasil desain GRAFIS?
Lebih baik dalam hal apa? Kalau hanya tampak indah secara visual (fisik) saja dan jago dalam penggunaan tools (softwares) mungkin orang awam bisa, tapi masalahnya yang seperti itu bukan desain grafis tapi dekorasi (make-up), (saya sarankan baca: www.dgi-indonesia.com/7-mitos-fakta-desain-grafis/Desain grafis, supaya lebih paham perbedaan antara: apa itu desain grafis dan apa itu dekorasi). Sedangkan desain grafis itu selain memperindah juga punya fungsi: menyampaikan pesan dan identitas. Tujuannya untuk menjual, memberi informasi, menanamkan citra ke benak konsumen, dan lain-lain. Nah yang seperti ini pastinya butuh riset, analisa, cari strategi, dll. Nah keahlian riset, analisa, strategi, dll ini yang mungkin tidak dimiliki oleh awam. Jadi jelas tingkat pendidikan pastinya mempengaruhi hasil desain grafis.
7. Apakah pendapat masyarakat awam tentang suatu desain GRAFIS dapat mengubah nilai desain GRAFIS tersebut?
Maaf tapi saya tidak mengerti maxud pertanyaan ini. Mohon dijelaskan lebih detil dulu.
8. Bagaimana standar desain GRAFIS di Indonesia menurut bapak / ibu?
Bukan maksud saya untuk merendahkan orang lain, tetapi faktanya di Indonesia banyak orang yang menyebut dirinya ‘desainer grafis’, entah apa pekerjaan maupun latar belakangnya. Nah kaum awam yang menyebut dirinya ‘desainer grafis’ ini mungkin minim pengetahuannya tentang ilmu desain grafis dan value seorang desainer grafis. Boro-boro bicara tentang sustainability, rakyat kita masih banyak yang hidup di bawah garis kemiskinan, maka pikiran pertama mereka adalah perut dulu, kualitas desain belakangan. Hasilnya: tercipta banyak kelas2 desainer grafis di sini, mau yang harga serba 20ribuan ada, yang serba 500ribuan ada, yang medium dan high class juga ada.
9. Apakah selera masyarakat mempengaruhi hasil dan nilai desain GRAFIS di Indonesia?
Sangat tergantung para desainernya. Kalau pribadi kita masing2 menilai diri kita sendiri sebagai murahan dan berprinsip ‘ikut kemauan masyarakat’ (lihat jawaban nomor 5), sangat besar kemungkinan jawabannya Ya. Tapi kalau kita mau kompak dan terus berjuang mendidik masyarakat tentang apa itu desain grafis & siapa itu desainer grafis (diri kita) dan mematok diri kita dengan standar yang tinggi (bukan cuma harga, tapi: cara kerja, kecerdasan, wawasan, keilmuan, taste, sense, dll), maka kita bisa mengubah keadaan tsb menjadi: masyarakat yang ikut kita > standar desain grafis di Indonesia menjadi tinggi dan memiliki martabat yang layak.
10. Apa pendapat tentang desain GRAFIS yang menurut bapak / ibu buruk tapi disukai masyarakat?
Buruk dari segi apa? Visual semata? Unity? Kedalaman konsep? Maaf, belum jelas pertanyaannya
11. Apakah desain GRAFIS yang baik harus memenuhi prinsip-prinsip desain GRAFIS? Jika iya, desain GRAFIS macam apa yang lebih diprioritaskan?
a. Desain GRAFIS yang diterima masyarakat
atau
b. Desain GRAFIS yang memenuhi prinsip-prinsip desain GRAFIS?
Anda harus mengerti dulu bahwa penilaian terhadap desain tidak hanya pemenuhan persyaratan desain grafis itu sendiri (lihat jawaban no.2) tapi lebih dari itu, ada persyaratan ekonomis, dan persyaratan sustainability. Desain grafis yang baik tentunya yang mencapai persyaratan sustainability, selain ekonomis dan persyaratan desain grafis itu sendiri.
Tentang Usia, Menulis, dan Menciptakan Arus
Joseph Reinaldo May 2 at 5:29pm Report
Halo Pak Rustan, maaf mengganggu.
Sebelumnya perkenalkan nama saya – seperti yang bisa bapak lihat – Joseph Reinaldo.
Saya bisa dipanggil Joe. saya anak DKV Cinematography 2008, satu angkatan
dengan anak-anak DG yang pernah bapak ajari Typography.
Maaf harus menghubungi bapak dengan cara seperti ini. Saya sudah mencoba bertanya
ke sejumlah anak DG tapi herannya tak satupun dari mereka yang punya kontak bapak
(atau sampai saat ini anggaplah saya tidak cukup banyak menginterogasi mereka).
Saya sebetulnya lebih memilih berkomunikasi lewat email, tetapi saat ini Facebook-lah
yang paling efisien.
Saya menguhubungi bapak dalam kapasitas sebagai Head Journalist MORPH Magazine, majalah
DKV UMN. Kebetulan kita akan launching edisi pertama (kalau tidak molor) tanggal 16 Mei ini.
Kita punya satu rubrik judulnya: Dialoge; yang berisi pendapat para praktisi dunia kreatif
antara lain desainer, animator, film-maker dan bidang terkait.
Saya ingin meminta pendapat singkat bapak sebagai penulis buku dan tipografer – tanpa maksud
menjilat atau sejenisnya – karena saya rasa bapak sudah kompeten di bidang yang bapak tekuni.
“Mosi” kita kali ini adalah:
“Do Designers Design Their Future?”
Maksudnya, apakah seseorang – katakanlah mahasiswa desain – sudah bisa mengambil ancang-ancang
tentang pekerjaan yang nanti dia tekuni? Pekerjaan yang dimaksud disini adalah yang sifatnya
menghidupi dan dapat memberikan dampak positif bagi si employer itu sendiri. Mengapa kami
mengambil tema ini; kami mencoba berangkat dari kenyataan (menyedihkan) bahwa banyak mahasiswa
(dan para calon) DKV yang enggan masuk jurusan ini karena dianggap tidak layak, tidak menghasilkan,
kurang berguna (kasarnya: nyampah). Lagi, banyak mahasiswa DKV yang masih bingung hendak
jadi apa mereka setelah lulus, apakah mereka cukup kompeten untuk dunia kerja dan apakah mereka
bisa mendapatkan pekerjaan yang baik.
Akan sangat baik sekali jika bapak memberikan opini berdasarkan pengalaman bapak; apakah
bapak menjadi seorang penulis buku dan typografer seperti ini karena memang sudah bapak rencanakan,
atau terjadi begitu saja. Apakah penting seorang desainer – layaknya saat mereka hendak membuat
suatu artworks – memikirkan dengan baik segala sesuatunya sebelum membuat keputusan? Dan yang terakhir
(saya tahu pertanyaan ini konyol) Apakah dengan menjadi seorang desainer,
mereka bisa memiliki masa depan yang cerah dan menjanjikan – sama seperti artworks2 yang mereka ciptakan?
Selain meminta opini bapak, saya juga punya permintaan kurang ajar lainnya. Saya tahu seharusnya
saya (nekat) menghubungi bapak lebih awal, tetapi saya akan sangat menghargai jika bapak bisa
membalas pertanyaan ini dalam waktu satu dua hari – setidaknya sebelum lewat hari Kamis 5 Mei 2011. Tidak
perlu panjang seperti essay, satu paragraf singkat saja sudah cukup.
Jika bapak bersedia, saya atas nama redaksi MORPH Magazine akan sangat bersukacita dan berterima kasih.
____________________
“Tentang usia, menulis, dan menciptakan arus”
oleh: Surianto Rustan – writer, speaker, teacher, graphic designer
Panjang umur itu relatif
Dulu, sebelum mulai menulis buku, saya berpikir, apa yang saya lakukan selama ini? Untuk apa saya hidup? Apa hidup hanya lahir, pacaran, menikah, punya anak, lalu mati?
Sayang sekali kalau cuma begitu.
Kebetulan saya mengukur waktu pakai standar bumi, jadi terasa lama dan sempat bermalas-malasan.
Coba saja hitung usia pakai ukuran bintang di angkasa, berapa lama saya hidup? sepersejuta detik?
Bukankah kesannya hidup jadi sekadar “numpang lewat”?
Sungguh menyedihkan.
Hal inilah yang membuat saya berpikir perlu berbuat sesuatu, meninggalkan kenang-kenangan yang berguna buat generasi mendatang, sekaligus mengukir kalimat “Surianto Rustan was here”.
Siapa yang tahu Desain Grafis itu apa?
Kebetulan saya desainer grafis, dan di sini profesi tersebut perlu banyak didukung. Miskinnya literatur tentang hal ini menyebabkan siapapun bertanya-tanya: apa itu desain grafis? siapa itu desainer grafis?
Ketidak-jelasan ini berlangsung lama, diperparah dengan pesatnya teknologi software desain yang makin mempermudah pekerjaan desain menciptakan pengaruh buruk: banyak pihak desainer (atau menyebut dirinya desainer) yang seenaknya mempermainkan harga, masyarakat yang tahunya desain itu = software komputer makin yakin kalau desain dan desainer itu komoditi dan murah harganya.
(untuk mengetahui sebenarnya apa itu desain grafis dan siapa itu desainer grafis secara singkat, silahkan membaca artikel-artikel saya di: DGI-Indonesia.com/bukamata, tiap artikelnya bisa didownload dan disebarluaskan lagi).
Untuk itulah saya menulis, supaya makin banyak orang bisa mengapresiasi bidang ini secara lebih berimbang.
Agent of Changes
Banyak di antara kita yang tidak menyadari hal ini: bahwa kita dapat mengubah dunia.
Polanya sudah umum terjadi di mana-mana: seorang visioner diejek dan diolok-olok oleh orang-orang sekitarnya, dianggap tidak akan bisa mengubah nasib malangnya. Pada suatu hari ia membuktikan ucapannya dan terbukti telah mengubah – bukan hanya nasibnya sendiri, bahkan meningkatkan harkat hidup orang-orang yang dulu mengejeknya.
Hidup seseorang dilalui dengan tahapan-tahapan, masing-masing orang berbeda satu dengan lainnya. Namun pada suatu titik dalam hdupnya, ia harus memilih di antara dua ini:
1. Mau menyerah terbawa arus, atau:
2. Mau menciptakan arus
Mungkin tidak se-ekstrim hitam / putih, tapi lebih tepatnya: mau didominasi oleh yang mana.
Ini berlaku untuk semua orang, apapun profesinya. Tidak hanya desainer, tapi juga akuntan, dokter, arsitek, hakim, pedagang, pengusaha, dan siapapun.
Untuk hidup yang layak, semua orang bisa, syaratnya harus kerja keras. Tapi untuk menciptakan arus, tidak hanya kerja keras yang diperlukan, juga kreatif, pendirian teguh, perencanaan & target yang matang, dan yang paling penting: iman.
Pernah dengar kata-kata bijak ini? “Ubahlah dirimu sendiri, maka engkau mengubah dunia”. Bercerminlah dulu sebelum yakin bahwa engkau adalah agent of changes, si pencipta arus itu. Apakah saya menghargai diri saya dan orang lain? Rajin belajar? tidak malas? jujur? suka membantu orang lain? rendah hati?
Selamat berjuang!
Leave a Comment